Kabar Nusantara

Tradisi Tumbilotohe di Posigadan Masih Gunakan Alikusu dari Bambu

×

Tradisi Tumbilotohe di Posigadan Masih Gunakan Alikusu dari Bambu

Sebarkan artikel ini
Tradisi Tumbilotohe di Posigadan Masih Gunakan Alikusu dari Bambu
Lampu tradisional pada alikusu di Posigadan, Selasa (17/3/2026).

Hargo.co.id, SULUT – Tradisi Tumbilotohe di Kecamatan Posigadan, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), masih terus dilestarikan oleh masyarakat dengan cara tradisional.

Berita Terkait:  [HOAKS] Jaringan Internet Indonesia Akan Diputus Amerika Serikat 1 Desember

Hingga saat ini, warga setempat tetap menggunakan alikusu atau rangka dari bambu sebagai tempat pemasangan lampu minyak.

Pada Selasa (17/3/2026), suasana malam di Posigadan tampak indah dengan deretan lampu botol yang dipasang pada rangka bambu.

Berita Terkait:  Ini Cara Polsek Botupingge Cegah Aksi Bullying

Cahaya lampu yang menyala memberikan nuansa hangat sekaligus memperkuat nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi ini dilakukan masyarakat sebagai bagian dari perayaan malam-malam akhir bulan Ramadan.

Berita Terkait:  Polda Gorontalo Gelar Program Belajar Baca Al-Quran Bagi Bintara Remaja

Warga secara gotong royong menyiapkan bambu, merangkainya menjadi alikusu, kemudian memasang botol-botol berisi minyak tanah sebagai penerang.

Salah satu warga, Ambran, mengatakan bahwa penggunaan bambu dalam Tumbilotohe sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Berita Terkait:  IKA Haji Kloter 30 Tahun 2025 Gelar Buka Puasa Bersama, Salurkan 40 Paket Ramadan

“Dari dulu memang begini, masih pakai bambu supaya tradisinya tetap sama seperti orang tua dulu,” ujarnya.

Tumbilotohe sendiri dilaksanakan menjelang Hari Raya Idulfitri sebagai simbol penerangan dan harapan.

Berita Terkait:  Viral, 6 Orang Santriwati Diduga Dicabuli Pimpinan Ponpes di Lebak

Di Posigadan, tradisi ini bukan sekadar hiasan, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.

Dengan tetap mempertahankan penggunaan alikusu dari bambu, masyarakat Posigadan menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi tetap dijaga di tengah perkembangan zaman.(Mg-01)

Berita Terkait:  "Santri Digitalpreneur 2024" Diharapkan Cetak Santri Kreatif di Bidang Digital