Kota GorontaloPersepsi

KOTA YANG MENDIDIK

×

KOTA YANG MENDIDIK

Sebarkan artikel ini
KOTA YANG MENDIDIK
Husin Ali

Tentang Sekolah Terdekat, Kesempatan yang Setara, dan Masa Depan Anak-anak Gorontalo.
Berita Terkait:  Birokrasi: Antara Politik dan Netralitas

Oleh: Husin Ali

MASIH saya ingat dengan sangat jelas ketika pertama kali dipercaya untuk membantu mengurusi pendidikan dan kebudayaan di Kota Gorontalo. Sebagai orang yang akan memasuki dunia pendidikan dari ruang kebijakan, saya merasa perlu mendengar langsung arah dan harapan pemimpin daerah terhadap pendidikan kota ini.

Berita Terkait:  Polemik Izin Valerio, Satpol PP: Pub Sudah Ditutup, Karaoke Berizin Pusat

Suatu hari saya menghadap Wali Kota Gorontalo, Bapak H. Adhan Dambea. Pertemuan itu berlangsung sederhana. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada arahan berlembar-lembar. Sebagaimana karakter beliau yang dikenal lugas dan langsung pada inti persoalan, saya hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Pak Wali, apa yang paling perlu saya perhatikan ketika mengurusi pendidikan dan kebudayaan?”

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Saya menunggu jawaban yang mungkin berbicara tentang pembangunan sekolah, peningkatan sarana dan prasarana, atau program-program besar yang membutuhkan anggaran tidak sedikit.

Namun jawaban yang saya terima justru sangat sederhana.

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

“Perhatikan guru dan peserta didik.”

Hanya itu.Singkat.

Berita Terkait:  264 JCH Dilepas, Indra Gobel Tekankan Jaga Akhlak dan Nama Baik Daerah

Tetapi semakin lama saya memikirkan kalimat tersebut, semakin saya memahami kedalaman maknanya.Karena sesungguhnya seluruh urusan pendidikan pada akhirnya memang bermuara pada dua hal itu.

Guru dan peserta didik.
Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

Gedung yang bagus tidak akan berarti banyak jika guru tidak bertumbuh.Kurikulum yang baik tidak akan memberi dampak besar jika tidak diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang bermakna.

Program yang hebat tidak akan memiliki arti jika tidak menyentuh kehidupan anak-anak yang setiap pagi datang ke sekolah dengan membawa harapan mereka masing-masing.

Berita Terkait:  Setahun Menanti Penanganan, Warga Bulota Khawatir Abrasi Sungai Kian Mengancam Permukiman

Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam pikiran saya hingga hari ini.

Dan mungkin karena itulah saya mulai memahami benang merah berbagai kebijakan pendidikan yang sedang dibangun di Kota Gorontalo. Mulai dari Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), penguatan pendidikan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Program Makan Bergizi Gratis, penguatan Pramuka dan PMR, AIR Belajar Gorontalo, hingga gerakan Make Up School.

Berita Terkait:  Marten Taha: Operasi Jantung Sudah Bisa di Kota Gorontalo

Jika diperhatikan dengan saksama, seluruh kebijakan itu sesungguhnya mengarah pada tujuan yang sama.Membangun guru yang lebih kuat.Dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi peserta didik.

Ketika SPMB Tahun 2026 diluncurkan, saya melihat sebagian masyarakat masih memandangnya hanya sebagai mekanisme penerimaan murid baru.Padahal sesungguhnya yang sedang dibangun jauh lebih besar daripada itu.

Berita Terkait:  Pisah Sambut Tahun: Gelar Zikir Akbar, Pemkot Hadirkan Ustadz Zacky Mirza

SPMB bukan hanya tentang bagaimana seorang anak diterima di sekolah.SPMB adalah tentang bagaimana sebuah kota mendefinisikan keadilan dalam pendidikan.Tentang bagaimana kesempatan diberikan secara lebih merata.Tentang bagaimana setiap anak memperoleh hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Dan yang paling penting, tentang bagaimana kita mulai meninggalkan cara pandang lama yang tanpa sadar menciptakan jarak di antara anak-anak kita.Selama bertahun-tahun kita hidup dengan istilah yang begitu akrab di telinga: sekolah favorit.

Berita Terkait:  Adhan Is Back: Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Istilah itu hadir dalam percakapan keluarga. Hadir dalam harapan orang tua.Bahkan hadir dalam mimpi sebagian anak-anak.Lama-kelamaan kita mulai percaya bahwa masa depan seorang anak ditentukan oleh sekolah tempat ia diterima.

Padahal sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa masa depan tidak pernah ditentukan oleh papan nama sekolah.Masa depan ditentukan oleh karakter.Ditentukan oleh kerja keras.Ditentukan oleh lingkungan yang mendukung.Dan ditentukan oleh kesempatan yang diberikan kepada seseorang untuk berkembang.

Berita Terkait:  Marten Taha: Operasi Jantung Sudah Bisa di Kota Gorontalo

Karena itu saya melihat keberanian untuk menghapus stigma sekolah favorit bukan sekadar kebijakan pendidikan.Ia adalah upaya membangun keadilan sosial melalui pendidikan.Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil, tanpa harus dibatasi oleh persepsi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kepada anak-anak Kota Gorontalo, saya ingin menyampaikan sesuatu.
Berita Terkait:  Adhan Is Back: Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Mungkin tahun ini kalian akan masuk ke sekolah yang letaknya hanya beberapa menit dari rumah.Mungkin sekolah itu bukan sekolah yang paling sering disebut-sebut orang.Mungkin ada di antara kalian yang sempat merasa kecewa.

Tetapi percayalah.Sekolah tidak menentukan seberapa besar dirimu.Justru dirimulah yang akan menentukan seberapa besar sekolahmu.Jangan pernah datang ke sekolah dengan perasaan menjadi pilihan kedua.Datanglah dengan keyakinan bahwa kalian adalah generasi yang akan membuat sekolah itu menjadi lebih baik.

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

Jadilah siswa yang berprestasi.Jadilah siswa yang aktif.Jadilah siswa yang disiplin.Jadilah siswa yang gemar membaca.Jadilah siswa yang mencintai sekolahnya.Jadilah siswa yang membuat guru-gurumu bangga.Jadilah siswa yang membuat sekolahmu dikenal karena karya dan pencapaianmu.

Saya selalu percaya bahwa jauh lebih membanggakan menjadi bintang di sekolahmu sendiri daripada menjadi pelengkap di tempat lain.

Berita Terkait:  Pisah Sambut Tahun: Gelar Zikir Akbar, Pemkot Hadirkan Ustadz Zacky Mirza

Bangunlah prestasi.Bangunlah karakter.Bangunlah mimpi.

Karena suatu hari nanti dunia tidak akan bertanya di sekolah mana kamu belajar.Dunia akan bertanya apa yang telah kamu lakukan selama berada di sana.Dan sering kali sejarah sekolah berubah karena kehadiran satu generasi yang memutuskan untuk tampil, bekerja keras, dan menginspirasi.

Mengapa bukan generasi itu adalah kalian?
Berita Terkait:  Polemik Izin Valerio, Satpol PP: Pub Sudah Ditutup, Karaoke Berizin Pusat

Kepada para orang tua, izinkan saya mengajak kita semua menoleh sejenak ke belakang.Mari kita mengingat masa ketika kita masih kecil.Sebagian besar dari kita bersekolah tidak jauh dari rumah.Kita berjalan kaki bersama teman-teman.Kita mengenal guru-guru kita.Guru mengenal orang tua kita.Tetangga ikut mengawasi kita.Lingkungan ikut membesarkan kita.

Saat itu pendidikan bukan hanya urusan sekolah.Pendidikan adalah urusan masyarakat.Pendidikan adalah urusan kampung.Pendidikan adalah urusan bersama.

Berita Terkait:  Setahun Menanti Penanganan, Warga Bulota Khawatir Abrasi Sungai Kian Mengancam Permukiman

Hari ini dunia memang berubah.Teknologi berkembang.Mobilitas meningkat.Tetapi kebutuhan dasar seorang anak tidak berubah.

Anak tetap membutuhkan perhatian.Anak tetap membutuhkan kedekatan.Anak tetap membutuhkan lingkungan yang mengenalnya.Karena itu memilih sekolah yang dekat dengan rumah bukanlah pilihan yang lebih rendah.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Justru dalam banyak hal, itu bisa menjadi pilihan yang lebih bijaksana.Anak memiliki waktu istirahat yang lebih baik.Anak memiliki waktu belajar yang lebih cukup.Anak memiliki kesempatan lebih besar untuk berinteraksi dengan keluarganya.Anak memiliki ruang yang lebih luas untuk mengikuti kegiatan pengembangan diri di lingkungan tempat tinggalnya.

Dan yang tidak kalah penting, orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam proses pendidikan anak.Karena sesungguhnya pendidikan yang paling berhasil adalah pendidikan yang mempertemukan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam satu tujuan yang sama.

Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

Yang menarik, perubahan yang sedang dibangun Kota Gorontalo tidak berhenti pada sistem penerimaan murid baru.Ada gagasan yang jauh lebih besar.Yaitu membangun pusat-pusat keunggulan pendidikan di setiap kecamatan.

Ini bukan pekerjaan yang sederhana.
Berita Terkait:  Birokrasi: Antara Politik dan Netralitas

Karena selama bertahun-tahun kualitas pendidikan sering kali terkonsentrasi di beberapa sekolah tertentu.Prestasi menumpuk di tempat yang sama.Kepercayaan masyarakat mengalir ke tempat yang sama.Sumber daya terbaik berkumpul di tempat yang sama.

Akibatnya sekolah-sekolah lain sering kali kesulitan tumbuh.
Berita Terkait:  264 JCH Dilepas, Indra Gobel Tekankan Jaga Akhlak dan Nama Baik Daerah

Hari ini arah kebijakannya mulai berubah.Guru-guru hebat yang selama ini dikenal berhasil membangun pembelajaran bermutu tidak lagi dipandang sebagai aset satu sekolah tertentu.Mereka adalah aset seluruh Kota Gorontalo.

Karena itu pengalaman, budaya kerja, dan praktik-praktik baik pendidikan mulai disebarkan ke berbagai sekolah yang diproyeksikan menjadi pusat keunggulan di setiap kecamatan.

Berita Terkait:  Adhan Is Back: Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Yang dipindahkan bukan sekadar guru.Yang berpindah adalah pengalaman.Yang berpindah adalah budaya mutu.Yang berpindah adalah optimisme.Yang berpindah adalah keyakinan bahwa setiap sekolah dapat maju.

Dan sering kali perubahan besar memang dimulai dari perpindahan harapan.Bayangkan jika setiap kecamatan memiliki sekolah yang kuat.Bayangkan jika setiap wilayah memiliki pusat keunggulan pendidikannya sendiri.Bayangkan jika anak-anak terbaik tidak lagi merasa harus pergi jauh untuk mendapatkan pendidikan terbaik.Bayangkan jika masyarakat mulai bangga terhadap sekolah-sekolah di lingkungannya sendiri.
Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

Maka yang sedang dibangun bukan hanya sekolah.Yang sedang dibangun adalah kepercayaan.Dan tidak ada pembangunan yang lebih kuat daripada pembangunan yang bertumpu pada kepercayaan masyarakat.

Namun ketika berbicara tentang pendidikan, sesungguhnya ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita.Kita sering berbicara tentang sekolah.Kita sering berbicara tentang guru.Kita sering berbicara tentang kurikulum, program, dan kebijakan.Tetapi jarang sekali kita berbicara tentang orang-orang yang diam-diam menjadi fondasi dari seluruh perjalanan seorang anak.

Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

Saya sedang berbicara tentang seorang ibu.Atau sosok yang dalam banyak keluarga dipanggil dengan begitu hangat: Mama.

Di balik setiap anak yang berangkat ke sekolah setiap pagi, hampir selalu ada doa seorang ibu yang mengiringinya. Doa yang tidak pernah tercatat dalam rapor.

Berita Terkait:  264 JCH Dilepas, Indra Gobel Tekankan Jaga Akhlak dan Nama Baik Daerah

Doa yang tidak pernah masuk dalam indikator kinerja pendidikan.Doa yang tidak pernah muncul dalam statistik apa pun.

Tetapi justru menjadi kekuatan yang sering kali menyelamatkan seorang anak ketika ia kehilangan arah.Seorang ibu mungkin tidak memahami seluruh teori pendidikan.Mungkin tidak mengerti istilah-istilah yang sering dibicarakan dalam seminar.Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun.Keyakinan yang nyaris tanpa batas terhadap masa depan anaknya.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Ketika seorang anak gagal, ibu adalah orang pertama yang tetap percaya.Ketika seorang anak jatuh, ibu adalah orang pertama yang mengatakan bahwa ia masih bisa bangkit.Ketika dunia mulai meragukan seorang anak, seorang ibu sering kali menjadi orang terakhir yang berhenti berharap.

Pendidikan juga berlangsung di ruang-ruang sunyi ketika seorang ibu menyebut nama anaknya dalam doa-doanya setiap malam.
Berita Terkait:  Polemik Izin Valerio, Satpol PP: Pub Sudah Ditutup, Karaoke Berizin Pusat

Dan di samping sosok itu, sering kali hadir pula seorang lelaki sederhana yang tidak banyak berbicara tentang cinta. Yang tidak selalu pandai menunjukkan perasaannya.

Yang sering memilih diam. Tetapi diam-diam menghabiskan hidupnya untuk memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada dirinya.

Berita Terkait:  Pisah Sambut Tahun: Gelar Zikir Akbar, Pemkot Hadirkan Ustadz Zacky Mirza

Ia tidak selalu berdiri di depan.Tidak selalu ingin disebut. Tidak selalu ingin dipuji.Bahkan sering kali memilih berada di belakang layar. Namun dari sanalah ia mendorong.

Dari sanalah ia menopang.Dari sanalah ia memastikan bahwa mimpi anak-anaknya tidak berhenti di tengah jalan.

Berita Terkait:  Birokrasi: Antara Politik dan Netralitas

Ia bekerja ketika orang lain beristirahat. Ia memikirkan masa depan anak-anaknya ketika dirinya sendiri belum sempat memikirkan masa depannya.

Dan ketika anak-anaknya berhasil, ia sering kali hanya tersenyum dari kejauhan.

Berita Terkait:  Setahun Menanti Penanganan, Warga Bulota Khawatir Abrasi Sungai Kian Mengancam Permukiman

Seolah ingin mengatakan:”Teruslah melangkah. Jangan berhenti di sini.”

Di balik banyak anak yang berhasil, hampir selalu ada seorang ibu yang tidak pernah berhenti berdoa. Dan ada seorang ayah yang tidak pernah berhenti percaya.
Berita Terkait:  Marten Taha: Operasi Jantung Sudah Bisa di Kota Gorontalo

Di sinilah saya melihat makna yang lebih besar dari berbagai program pendidikan yang sedang berjalan.

Mulai dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Program Makan Bergizi Gratis.Penguatan Pramuka dan PMR.

Berita Terkait:  264 JCH Dilepas, Indra Gobel Tekankan Jaga Akhlak dan Nama Baik Daerah

AIR Belajar Gorontalo. Hingga gerakan Make Up School.

Semuanya sesungguhnya mengarah pada satu cita-cita besar.

Berita Terkait:  Marten Taha: Operasi Jantung Sudah Bisa di Kota Gorontalo

Yaitu menjadikan Kota Gorontalo sebagai ruang belajar. Bukan hanya sekolah yang mendidik.

Tetapi seluruh kota. Rumah menjadi ruang belajar.

Berita Terkait:  Setahun Menanti Penanganan, Warga Bulota Khawatir Abrasi Sungai Kian Mengancam Permukiman

Lingkungan menjadi ruang belajar. Taman menjadi ruang belajar. Lapangan menjadi ruang belajar.

Masjid menjadi ruang belajar. Komunitas menjadi ruang belajar. Pramuka menjadi ruang belajar.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

PMR menjadi ruang belajar.

Bahkan meja makan pun menjadi ruang belajar ketika anak-anak belajar tentang disiplin, rasa syukur, tanggung jawab,

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

dan kepedulian melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Karena sesungguhnya pendidikan tidak hidup hanya di ruang kelas.Pendidikan hidup dalam budaya.Pendidikan hidup dalam kebiasaan.Pendidikan hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait:  Pisah Sambut Tahun: Gelar Zikir Akbar, Pemkot Hadirkan Ustadz Zacky Mirza

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak akan diukur dari berapa banyak anak yang berebut masuk ke satu sekolah.

Keberhasilan pendidikan akan diukur dari berapa banyak sekolah yang dipercaya masyarakatnya.

Berita Terkait:  Adhan Is Back: Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Tidak diukur dari seberapa jauh anak pergi mencari sekolah.

Tetapi dari seberapa baik sekolah-sekolah di sekitarnya mampu membantunya bertumbuh.

Berita Terkait:  Birokrasi: Antara Politik dan Netralitas

Tidak diukur dari berapa besar satu sekolah.

Tetapi dari seberapa merata kualitas pendidikan tumbuh di seluruh kota.

Berita Terkait:  Polemik Izin Valerio, Satpol PP: Pub Sudah Ditutup, Karaoke Berizin Pusat

Karena itu saya ingin mengajak anak-anak Kota Gorontalo untuk datang ke sekolah dengan penuh kebanggaan.

Datanglah sebagai calon pemimpin. Datanglah sebagai calon inovator.Datanglah sebagai calon penggerak perubahan.

Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

Jadilah alasan mengapa sekolahmu menjadi lebih baik.

Dan kepada para orang tua, saya ingin mengajak kita semua untuk mewariskan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar ambisi.

Berita Terkait:  Anak yang Dapat Menerima Pembelajaran dengan Baik dari Gurunya

Mari kita wariskan kepercayaan. Percaya kepada anak-anak kita.Percaya kepada guru-guru kita.

Percaya kepada sekolah-sekolah di lingkungan kita. Dan percaya bahwa masa depan tidak ditentukan

Berita Terkait:  Pisah Sambut Tahun: Gelar Zikir Akbar, Pemkot Hadirkan Ustadz Zacky Mirza

oleh seberapa jauh seorang anak pergi dari rumah untuk bersekolah.

Melainkan oleh seberapa besar kesempatan yang diberikan kepadanya untuk bertumbuh.

Berita Terkait:  Setahun Menanti Penanganan, Warga Bulota Khawatir Abrasi Sungai Kian Mengancam Permukiman

Karena sesungguhnya kota yang hebat bukanlah kota yang memiliki satu sekolah terbaik.

Kota yang hebat adalah kota yang membuat setiap sekolah menjadi tempat terbaik bagi anak-anaknya

Berita Terkait:  Polemik Izin Valerio, Satpol PP: Pub Sudah Ditutup, Karaoke Berizin Pusat

untuk bermimpi, belajar, bertumbuh, dan berhasil. Dan saya kira, itulah cita-cita yang sedang dibangun hari ini.

Kota yang mendidik.Sebuah kota yang tidak hanya membangun sekolah.Tetapi membangun manusia.Tidak hanya menyiapkan murid untuk lulus.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Tetapi menyiapkan generasi untuk memimpin masa depan.Tidak hanya membangun ruang belajar.

Tetapi menjadikan seluruh Kota Gorontalo sebagai ruang belajar itu sendiri.

Berita Terkait:  Marten Taha: Operasi Jantung Sudah Bisa di Kota Gorontalo

Karena pada akhirnya, warisan terbesar sebuah kota bukanlah gedung yang menjulang tinggi, bukan pula jalan yang membentang panjang.

Warisan terbesar sebuah kota adalah anak-anak yang tumbuh dengan karakter yang baik,
Berita Terkait:  264 JCH Dilepas, Indra Gobel Tekankan Jaga Akhlak dan Nama Baik Daerah

pendidikan yang bermutu, hati yang peduli, dan mimpi yang berani.

Dan ketika anak-anak itu kelak berdiri memimpin zamannya, mereka akan mengenang bahwa semua itu bermula dari

Berita Terkait:  Menjaga Rasionalitas Publik di Tengah Isu Komisaris Bank SulutGo

sebuah kota yang memilih untuk tidak sekadar membangun sekolah, melainkan memilih untuk mendidik seluruh kehidupannya.