Hargo.co.id, GORONTALO – Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, tak hanya menyimpan potensi alam. Wilayah yang berada di kawasan pedalaman itu juga menyimpan cerita dan ingatan masyarakat yang berkaitan dengan sejarah awal peradaban Gorontalo.
Pinogu bahkan dikenal dengan sebutan “Bumi Para Leluhur” atau dalam bahasa Suwawa disebut “Tiyombu no Lipu”. Berbagai cerita mengenai asal-usul masyarakat, Kerajaan Suwawa hingga keberadaan sejumlah makam yang dianggap memiliki nilai sejarah masih diwariskan secara turun-temurun.
Hal ini menjadi perhatian Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto, saat mendampingi Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dalam kunjungan kerja ke Kecamatan Pinogu, 22-23 September 2026.
Ridwan menilai, cerita yang berkembang di tengah masyarakat Pinogu perlu ditelusuri lebih jauh. Sebab, sebagian besar informasi mengenai sejarah tersebut masih disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Untuk menelusuri cerita tentang nenek moyang dan sejarah masyarakat di Pinogu tentu tidak cukup hanya dengan satu kali kunjungan. Banyak hal yang harus ditelusuri, mulai dari sumber cerita, penutur sejarah, lokasi-lokasi yang dianggap memiliki nilai sejarah, hingga bukti atau arsip yang dapat mendukung cerita tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat memiliki sejumlah cerita yang mengaitkan Pinogu dengan cikal bakal peradaban masyarakat Gorontalo tua sekitar 1500 Masehi. Cerita tersebut juga berkaitan dengan Kerajaan Suwawa dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Termasuk keberadaan makam yang oleh masyarakat setempat dianggap keramat dan dikaitkan dengan Raja Suwawa. Lokasi makam tersebut berada cukup jauh dari pusat Kecamatan Pinogu dan membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan untuk mencapainya.
Ridwan mengatakan, cerita-cerita semacam itu merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Dokumentasi penting dilakukan agar informasi yang diwariskan secara turun-temurun tidak berubah atau hilang seiring berjalannya waktu.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, kata dia, melihat penelusuran sejarah lisan sebagai salah satu upaya memperkaya khazanah kearsipan daerah.
Informasi yang dikumpulkan nantinya dapat mencakup cerita mengenai tokoh, tempat, tradisi, peristiwa, maupun kehidupan masyarakat yang belum seluruhnya tercatat dalam arsip tertulis. “Karena itu, diperlukan penelusuran lebih lanjut agar cerita yang berkembang di masyarakat dapat dikumpulkan, diverifikasi dan didokumentasikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, tokoh adat, akademisi, pemerhati sejarah serta pihak terkait lainnya untuk memastikan informasi yang dikumpulkan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, kunjungan pemerintah ke Pinogu juga dinilai penting untuk melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah tersebut. Kehadiran Gubernur bersama Forkopimda dan rombongan menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat di wilayah yang relatif sulit dijangkau tetap mendapat perhatian dalam pembangunan. Terlebih, akses menuju Pinogu masih menghadapi tantangan geografis dan belum didukung akses jalan yang dapat dilalui transportasi umum secara layak.
Bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan pelayanan publik. Sejarah, identitas dan memori masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu dijaga sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.
Pinogu pun menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk ditelusuri lebih jauh. Berbagai cerita yang selama ini hidup di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menggali lebih dalam sejarah dan warisan budaya Gorontalo. Jika hasil penelusuran nantinya memenuhi kaidah kesejarahan dan didukung bukti yang memadai, informasi tersebut dapat menjadi bagian dari khazanah sejarah daerah. (Diyanti)












