Di situlah mata saya berkaca-kaca.
Bukan karena jumlahnya semata, melainkan karena maknanya. Di ruangan itu, uang tidak lagi tampil sebagai transaksi, melainkan pernyataan etis. Sebuah pengakuan bahwa kota ini tidak hanya dijaga oleh APBD, tetapi oleh kesadaran warganya sendiri, oleh pelaku usaha yang memutuskan berdiri karena merasa sedang menjaga rumah bersama.
Sebagai seorang Antropolog yang selama ini menulis tentang Gorontalo dan budaya pendidikan karakter, saya terbiasa menjaga jarak analitis. Namun malam itu, jarak tersebut runtuh. Saya merasakan aura keberkahan yang sulit diterjemahkan ke dalam grafik atau teori: sebuah resonansi kolektif ketika orang-orang sadar bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang benar. Dalam antropologi, momen seperti ini jarang terekam lewat angka. Ia hidup dalam nada suara, jeda kalimat, cara orang saling memandang, dan keyakinan yang muncul perlahan, bahwa sesuatu sedang dimulai.
Ada pula alasan lain mengapa saya menulisnya saat itu juga. Kedekatan personal saya dengan sang Mayor teddy Gorontalo, Dandy Datau—yang dipilih Wali Kota sebagai Pelaksana Tugas Kepala BPBD—membuat momentum ini terasa terlalu penting untuk dibiarkan menguap. Saya mengenal kehati-hatiannya membaca risiko, disiplin operasionalnya, serta caranya berbicara tentang keselamatan warga tanpa dramatika. Penunjukan itu, bagi saya, bukan sekadar administrasi; ia adalah pesan kebijakan: bahwa kota ini sedang menempatkan urusan paling genting di tangan figur yang dipercaya bekerja dalam diam.
Dalam konfigurasi inilah saya membaca seni mengelola kota. Seorang wali kota yang tidak gemar beretorika, tetapi konsisten menjaga wilayahnya. Seorang wakil yang memahami alur pikir pimpinan dan denyut sosial warga. Dan seorang kepala teknis kebencanaan yang dipilih karena kapasitas, bukan sensasi. Bagi seorang antropolog, pertemuan antara struktur birokrasi, figur kepemimpinan, dan kehendak kolektif semacam ini adalah bahan etnografi yang langka.
Pengukuhan Perhimpunan Dunia Usaha Peduli Bencana (PERDANA) Kota Gorontalo sendiri merupakan peristiwa sosial yang kaya lapisan makna. Di sana, Pelaku usaha, aparat kebencanaan, akademisi, dan warga duduk sejajar. Para pengusaha tidak lagi dipanggil hanya ketika bencana datang, melainkan diajak sejak tahap pencegahan. Gudang, armada distribusi, hotel, jaringan ritel, hingga UMKM mulai dibicarakan sebagai bagian dari sistem keselamatan kota.
Dalam bahasa antropologi, inilah proses institusionalisasi solidaritas. Gotong royong—nilai yang selama ini hidup dalam keseharian warga pesisir—diberi struktur agar tahan lama. Ia tidak dibiarkan cair lalu menguap setelah krisis berlalu, tetapi diikat dalam organisasi, pembagian peran, latihan bersama, dan mekanisme pertanggungjawaban. Budaya lokal tidak dihapus; ia dimodernkan tanpa kehilangan ruhnya.
Tulisan ini saya tujukan, secara khusus, kepada para pengusaha Gorontalo. Selama ini Bapak dan Ibu dikenal sebagai penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja, roda distribusi, denyut pasar. Pada fase ini, sejarah memberi Anda peran tambahan: penjaga kota. Ketika gudang disiapkan sebagai titik distribusi darurat, ketika armada dialokasikan untuk evakuasi, ketika modal digerakkan untuk memulihkan UMKM pascabencana, di situlah bisnis bertemu dengan etika kewargaan.












