Persepsi

Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

×

Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

Sebarkan artikel ini
Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana
Husin Ali

Semua gagasan yang saya uraikan di sini berangkat dari satu rasa: salut kepada kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea. Tanpa basa-basi, tanpa tekanan simbolik, keteladanan itulah yang menjadi pemantik. Dunia usaha bergerak bukan karena dipaksa, melainkan karena percaya. Para pengusaha berdiri bukan karena instruksi, melainkan karena rasa hormat. Inilah bentuk kepemimpinan yang paling sunyi sekaligus paling efektif: memantik tanpa memerintah, menggerakkan tanpa menggurui.

Berita Terkait:  Anak yang Emosi dan Memiliki Sifat Sensitif Pada Anak Usia Dini

Dalam antropologi, kepemimpinan semacam ini sering disebut sebagai otoritas moral—kekuatan yang tidak bertumpu pada jabatan semata, melainkan pada konsistensi tindakan. Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang berulang, dari keberanian memulai, dari ketekunan menjaga arah. Di Gorontalo, otoritas moral itu tampak sedang bekerja.

Indonesia membutuhkan kota-kota seperti ini, daerah yang berani bereksperimen, yang melibatkan sektor privat tanpa melepas kendali publik, yang menjadikan kesiapsiagaan sebagai proyek kebudayaan, bukan sekadar proyek anggaran. Gorontalo punya peluang besar untuk dikenal bukan hanya karena geografi atau sejarahnya, tetapi karena keberaniannya merancang masa depan: penanggulangan bencana sebagai kerja bersama.

Berita Terkait:  Cegah Perilaku Bunuh Diri dengan Kecerdasan Emosional 

Dari perspektif antropologi, inilah yang saya sebut sebagai imajinasi sosial baru. Sebuah cara kolektif membayangkan masa depan: bahwa keselamatan bukan urusan satu lembaga, bahwa kesiapsiagaan bukan aktivitas musiman, bahwa kota dapat dirawat lewat relasi yang diperkuat sebelum krisis datang. Imajinasi inilah yang, jika dipelihara, dapat menular ke daerah lain, menjadi inspirasi nasional tentang bagaimana ketangguhan dibangun dari bawah, dari kepercayaan, dari teladan.

Di jam-jam sunyi seperti inilah tulisan-tulisan menemukan energinya. Ketika ambisi pribadi ditanggalkan, ketika kebijakan dibaca sebagai etika, ketika angka-angka berubah menjadi wajah-wajah warga yang ingin tetap hidup tenteram di rumah mereka. Saya menulis karena saya percaya: kota bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan persekutuan moral, ruang di mana orang-orang saling menjaga tanpa menunggu perintah.

Berita Terkait:  KOTA YANG MENDIDIK

Dan pada pergantian bulan ini, Gorontalo sedang menunjukkan bagaimana persekutuan itu dirawat dengan keteladanan, keikhlasan, dan keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Tulisan ini adalah cara kecil saya memberi hormat pada momentum itu: sebuah catatan lapangan tentang kota yang sedang belajar bersiap,

Berita Terkait:  'Matahari' Bersinar Hingga 2024

tentang pemimpin yang memilih bekerja dalam diam, tentang pengusaha yang bangkit tanpa dipaksa, dan tentang sebuah imajinasi baru,

bahwa ketangguhan bukan sekadar respons terhadap bencana, melainkan kebudayaan yang ditumbuhkan hari demi hari.

Berita Terkait:  Sekolah yang Memuliakan Manusia: Make Up School sebagai Jalan Kebudayaan

Jika Gorontalo konsisten merawat imajinasi ini, kepemimpinan yang memantik, dunia usaha yang bergerak sukarela, dan negara lokal yang mengorkestrasi tanpa memonopoli, maka kota ini tidak hanya sedang membangun kesiapsiagaan, melainkan sedang menulis model baru penanggulangan bencana dari daerah untuk Indonesia. Di tengah negeri yang kerap bergerak setelah terluka, Gorontalo sedang mencoba bersiap sebelum terlambat. Dan barangkali, justru dari kota-kota seperti inilah masa depan ketangguhan nasional akan dilahirkan.