Persepsi

Mama yang Pilih, Papa yang Bayar

×

Mama yang Pilih, Papa yang Bayar

Share this article
Mama yang Pilih, Papa yang Bayar
Husin Ali bersama istri.

Oleh: Husin Ali

Catatan Antropolog dari Pasar Mingguan Gorontalo

Berita Terkait:  PR Besar Calon Gubernur Gorontalo: Kemiskinan, Pangan hingga Tiket Pesawat yang Mahal

SEBAGAI antropolog, saya percaya satu hal: jika ingin membaca watak sebuah masyarakat, jangan mulai dari ruang rapat atau mimbar pidato. Mulailah dari pasar. Dari tempat orang berbicara apa adanya, bertransaksi dengan jujur, dan mempraktikkan kebudayaan tanpa sadar sedang “berbudaya”.

Sabtu pagi di pasar mingguan Gorontalo selalu menyuguhkan etnografi paling hidup. Di antara sayur yang masih basah oleh embun dan ikan yang berkilau di atas es, terdengar satu kalimat yang berulang, ringan, dan nyaris dianggap lelucon: “Mama yang pilih, Papa yang bayar.”

Berita Terkait:  In Memoriam DR. Jusdin Puluhulawa, SH., M.Si: Tokoh Pendidik Berlatar Aktivis yang Humble dan Renyah Bersahabat

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi seorang antropolog, ia adalah pintu masuk untuk memahami relasi kuasa, pembagian peran, dan etika rumah tangga masyarakat Gorontalo—tanpa perlu satu pun definisi akademik.

Di pasar itu, Mama melangkah lebih dulu. Matanya tajam, tangannya cekatan, suaranya tenang tapi menentukan. Ia tahu betul kualitas ikan, harga wajar cabai, dan perbedaan tipis antara sayur segar dan sayur yang hanya tampak segar. Di belakangnya, Papa mengikuti dengan ritme yang berbeda: membawa kantong belanja, sesekali bertanya, lebih sering mengangguk. Ketika tiba saatnya membayar, Papa melangkah maju tanpa ragu.

Berita Terkait:  Gesekan “Ruang Hidup” di Kota-Kota Kita

Tak ada ekspresi kalah, tak ada wajah terpaksa. Yang terlihat justru kerja sama yang matang—sebuah sistem sosial kecil yang telah teruji oleh waktu.

Dalam kacamata antropologi, ini bukan soal siapa berkuasa atas siapa. Ini soal otoritas berbasis pengalaman. Mama memilih karena ia mengelola dapur, kesehatan keluarga, dan kesinambungan konsumsi rumah tangga. Papa membayar karena ia memegang mandat ekonomi keluarga. Keduanya tidak saling meniadakan, justru saling melengkapi.

Berita Terkait:  Serambi Mekah yang Terendam, Gorontalo yang Menyapa: Kisah Kepedulian Adhan Dambea–Indra Gobel

Menariknya, semua itu terjadi tanpa kontrak, tanpa diskusi panjang, bahkan tanpa disadari sebagai “pembagian peran”. Inilah yang dalam antropologi disebut sebagai pengetahuan praktis—nilai yang hidup, diwariskan, dan dipelajari melalui praktik sehari-hari, bukan lewat ceramah.

Humor menjadi perekatnya. Ketika penjual berkata, “Biasa ini, Mama yang pilih, Papa yang bayar,” semua tertawa. Tawa itu penting. Ia menandai bahwa relasi ini diterima secara sosial. Tidak terasa menindas, tidak pula dianggap merendahkan. Humor bekerja sebagai mekanisme kultural untuk menjaga keseimbangan.

Berita Terkait:  Tidak Cukup Viral: Mengapa Media Harus Mengejar Resonansi?

Di tengah perdebatan modern tentang relasi gender yang sering keras dan saling mencurigai, pasar Gorontalo menawarkan wajah lain dari kesetaraan: kesetaraan yang cair, kontekstual, dan berakar pada kepercayaan. Kesetaraan yang tidak memaksa semua orang melakukan hal yang sama, tetapi memastikan setiap peran dihargai.

Pasar mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk suara keras atau keputusan final. Ia bisa hadir dalam bentuk keahlian memilih ikan yang segar. Dalam keberanian menawar harga. Dalam keikhlasan membuka dompet demi kebutuhan bersama.

Berita Terkait:  Datangi Kemenhub, Pj Gubernur Bahas Pengembangan Transportasi di Gorontalo

Maka, “Mama yang pilih, Papa yang bayar” bukanlah lelucon rumah tangga. Ia adalah narasi kecil tentang harmoni sosial. Sebuah etika domestik yang lahir dari pengalaman, bukan dari teori. Ia hidup karena bekerja—dan bekerja karena dipercaya.

Sebagai antropolog, saya melihat pasar mingguan Gorontalo bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi laboratorium kebudayaan. Dan di antara lapak-lapak sederhana itu, Indonesia yang paling jujur sedang dipraktikkan: tentang keluarga, tentang peran, dan tentang bagaimana hidup bersama tanpa harus saling mengalahkan.

Berita Terkait:  JAWA POS ADALAH MONSTER

Setiap Sabtu, pelajaran itu diulang kembali. Sunyi, sederhana, dan justru karena itu—sangat bermakna.

Gorontalo Memulai
Persepsi

Oleh: Husin Ali Antropolog, Anak Gorontalo KETIKA bahasa…