Oleh: Basri Amin
AKAR tradisi tentang ”ziarah” kepada leluhur tertanam-dalam di masyarakat Islam (Jawa dan Gorontalo).
Sampai hari ini, di Gorontalo, penampakan kuburan-kuburan orang tua dan keluarga di sekitar rumah dan permukiman masih menjadi penanda sejarah yang mudah diamati dan dijelaskan. Penentuan ”pemakaman keluarga” juga masih sangat tampak di mana-mana. Sebagian gerbangnya ditata mewah dan unik pula penempatan lingkungan dalamnya!
Bagi masyarakat Jawa-Tondano-Gorontalo, peletakan dan kedudukan per-makam-an keluarga dan leluhur menjadi posisi yang sangat penting. Terlebih karena mereka mewariskan tradisi keagamaan ber-ziarah- yang sangat khas. Dikenal dengan istilah Punggoan. Ini adalah salah-satu penggalan sosio-spiritual masyarakat Jaton dalam memuliakan bulan suci Ramadan.
Tradisi Punggoan yang dihayati dan yang diwariskan sejauh ini oleh masyarakat Jawa Tondano (Jaton) di Gorontalo telah melewati perkembangan sejarah yang panjang. Di baliknya terbentang narasi kebudayaan yang unik karena melintasi tradisi Islam – Jawa, bertahan dan berkembang di Tondano (Minahasa) dan mengalami “migrasi tradisi” ke Gorontalo sejak awal abad ke-20, ketika ekspansi politik kolonial masih berlangsung.
Tradisi Punggoan merupakan rangkaian tradisi Jaton yang multi-makna karena tidak terlepas dari “tradisi Islam” dan pandangan hidup (worldview) mengenai relasi kematian dan penghayatan kehidupan di kalangan masyarakat Jawa (Babcock, 1989: 133; Geertz, 1992; Partokusumo, 1995; Woodward, 1999; ).
Simpul tradisinya terpelihara melalui hubungan-hubungan sosial, spiritual dan kepemimpinan lokal yang dijalani oleh masyarakat Jawa Tondano di mana biografi keagamaan (kesalehan individu, Kyai/Ulama/Wali) disejajarkan dengan solidaritas tertentu (ketertiban sosial, kepemimpinan, dan musyawarah kampung berbasis agraris).
Semua rangkaian ini beririsan kuat dengan ruang-ruang pertumbuhan spiritual dan etika sosial yang dijalani makna-maknanya sebelum dan sesudah Bulan Puasa Ramadan.












