Pengetahuan tradisi dan prosesi pewarisannya merupakan masalah paling krusial dewasa ini dalam rangka “pemajuan kebudayaan” bangsa Indonesia.
Generasi yang berubah, mobilitas penduduk dan teknologi yang tersedia tidak serta-merta memediasi pendalaman pengetahuan dan pengalaman kultural yang setara dengan generasi sebelumnya.
Sehingga, kesenjangan wawasan, pemaknaan dan pemeliharaan tradisi tampaknya makin mengemuka di Gorontalo. Belum lagi karena “dokumentasi tradisi” belum seluruhnya dikerjakan dengan kaidah-kaidah yang memadai, baik secara kultural maupun intelektual (Amin, 2012).
Dalam kasus Tradisi Punggoan, berdasarkan penelusuran kami, sampai saat ini kita belum sepenuhnya menemukan hasil kajian yang memadai metodenya dan meyakinkan analisisnya.
Kita bisa memulai dari Desa Yosonegoro – Kampung Jawa tertua di Gorontalo–. Sangat agraris dan agamais. Karakter agraris masyarakat Jaton karena membawa pengetahuan bertani dan mempraktikannya di Yosonegoro hingga saat ini.
Pun demikian dengan karakter agamais karena kebiasaan memakmurkan masjid.












