Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa Tondano dipusatkan di Masjid di antaranya: naderan, maleman/kenduri,
ba’do ketupat, bahkan pernikahan dan prosesi doa sunatan wajib dilaksanakan di masjid.
Di Yosonegoro, dua masjid utama yang menandai sejarah panjang masyarakatnya, yakni Al-Muttaqin dan Masjid Al-Mubaraq. Pembangunannya dari dua masa yang berbeda. Masjid Al-Muttaqin usianya lebih tua.
Di bangun sekitar tahun 1914 dan mulai difungsikan pada tahun 1915. Kehadiran masjid ini juga menjadi artefak penanda hadirnya masyarakat Jawa Tondano di Desa Yosonegoro.
Di masjid ini terdapat sejumlah artefak seperti beduk, kentungan, mimbar serta 16 tiang (4 tiang Soko Guru) yang berusia ratusan tahun –sejak digunakan generasi awal Jaton di Yosonegoro.
Di Gorontalo, masih sering kita jumpai dokumentasi tradisi/budaya yang tidak akurat,
disebabkan karena: tidak berdasarkan kajian (data) lapangan dan telaah historis yang memadai,
dikerjakan tergesa-tergesa oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya komit dan kompeten,
tidak partisipatif dengan pelaku kunci tradisi serta kurang ‘imajinatif’ dalam memaknai setiap tahapan,
perlakuan tertentu dan nilai-nilai dasar ‘tradisi-agama’ yang menjadi acuan utama sebuah tradisi dan perubahan-perubahan orientasi sosial yang menyertainya.
Sebagai dampaknya, masyarakat tidak sepenuhnya memiliki “pegangan” pengetahuan yang otentik,
lembaga-lembaga pendidikan cukup terbatas memiliki sumber/rujukan pembelajaran dan media sosial dijejali
dengan dokumentasi tradisi tanpa basis riset yang memadai dan kredibel.*












