Persepsi

Kampung Jawa – Gorontalo (Ziarah dan Sejarah)

×

Kampung Jawa – Gorontalo (Ziarah dan Sejarah)

Share this article
Kampung Jawa - Gorontalo _Ziarah dan Sejarah_
Basri Amin

Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa Tondano dipusatkan di Masjid di antaranya: naderan, maleman/kenduri,

Berita Terkait:  'Matahari' Bersinar Hingga 2024

ba’do ketupat, bahkan pernikahan dan prosesi doa sunatan wajib dilaksanakan di masjid.

Di Yosonegoro, dua masjid utama yang menandai sejarah panjang masyarakatnya, yakni Al-Muttaqin dan Masjid Al-Mubaraq. Pembangunannya dari dua masa yang berbeda. Masjid Al-Muttaqin usianya lebih tua.
Berita Terkait:  Halalbihalal dan Kesehatan Otak

Di bangun sekitar tahun 1914 dan mulai difungsikan pada tahun 1915. Kehadiran masjid ini juga menjadi artefak penanda hadirnya masyarakat Jawa Tondano di Desa Yosonegoro.

Di masjid ini terdapat sejumlah artefak seperti beduk, kentungan, mimbar serta 16 tiang (4 tiang Soko Guru) yang berusia ratusan tahun –sejak digunakan generasi awal Jaton di Yosonegoro.

Berita Terkait:  Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan

Di Gorontalo, masih sering kita jumpai dokumentasi tradisi/budaya yang tidak akurat,

disebabkan karena: tidak berdasarkan kajian (data) lapangan dan telaah historis yang memadai,

Berita Terkait:  Fenomena Bunuh Diri Dalam Tinjauan Neurologi

dikerjakan tergesa-tergesa oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya komit dan kompeten,

tidak partisipatif dengan pelaku kunci tradisi serta kurang ‘imajinatif’ dalam memaknai setiap tahapan,

Berita Terkait:  Air Mata Warga di Penghujung Masa Jabatan Bupati

perlakuan tertentu dan nilai-nilai dasar ‘tradisi-agama’ yang menjadi acuan utama sebuah tradisi dan perubahan-perubahan orientasi sosial yang menyertainya.

Sebagai dampaknya, masyarakat tidak sepenuhnya memiliki “pegangan” pengetahuan yang otentik,

Berita Terkait:  Idul Adha dan Kepemimpinan Moral

lembaga-lembaga pendidikan cukup terbatas memiliki sumber/rujukan pembelajaran dan media sosial dijejali

dengan dokumentasi tradisi tanpa basis riset yang memadai dan kredibel.*

Berita Terkait:  Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi <i>Kursi Lipat</i>