HeadlinePersepsi

JAWA POS ADALAH MONSTER

×

JAWA POS ADALAH MONSTER

Sebarkan artikel ini
JAWA POS ADALAH MONSTER
Ilustrasi.

Fase strukturasi adalah proses penyeragaman ideologi secara terstruktur. Setelah Jawa Pos menjadi raksasa dengan mempunyai ratusan anak perusahaan di seluruh Indonesia terbentuklah strukturasi penyeragaman ideologi seluruh anak perusahaan Jawa Pos.

Berita Terkait:  Iing Casdirin: Tekun, Bersahaja, dan Konsisten

Strukturasi adalah hubungan agen sebagai pembentuk suatu struktur, dan struktur membentuk agen. Pada fase inilah Jawa Pos mempunyai pengaruh yang sangat besar kepada struktur kekuasaan. Pada fase inilah Dahlan Iskan menjadi direktur PLN, kemudian menteri BUMN.

Ketika menjabat sebagai direktur PLN itulah Dahlan mulai dikucilkan. Para pemegang saham Jawa Pos—orang-orang Tempo tempat Dahlan memulai karir jurnalistik—merasa bahwa saat itulah waktu yang tepat untuk menyingkirkan Dahlan.

Berita Terkait:  Bacok Polisi dengan Sajam, Pria Paruh Baya di Gorontalo di Dor

Secara psikologis dan historis Dahlan tetaplah dianggap sebagai ‘’anak kemarin sore’’ oleh elite Tempo. Ia dipelihara karena dianggap sebagai angsa bertelur emas. Atau, meminjam istilah Deng Xiaoping, Dahlan ialah kucing yang pandai menangkap tikus. Tidak peduli kucing hitam atau putih, asal pintar menangkap tikus maka akan terus dipelihara.

Tempo ibarat ‘’kebo nyusu gudel’’ terhadap Dahlan. Dividen mengalir lancar setiap tahun. Ketika Tempo dibreidel oleh Orde Baru pada 1994 Jawa Pos memberi skoci penyelamat.

Berita Terkait:  Oknum Polisi Diduga Aniaya Anak 17 Tahun dengan Senjata Api, Kapolda: Terbukti, Akan Ditindak Tegas

Tetapi, logika korporasi tidak mengenal sejarah, tidak mengakui keringat dan pengorbanan, serta abai terhadap jasa. Ketika Dahlan sudah tidak dibutuhkan lagi maka habis manis sepah dibuang. Logika korporasi mengatakan ‘’habis manis sepah ditelan’’ adalah logika tolol.