Hargo.co.id, GORONTALO – Kesuksesan penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo, tetapi juga menghadirkan berbagai komitmen program strategis dari pemerintah pusat yang diproyeksikan bernilai triliunan rupiah.
Sejumlah program yang berhasil diperjuangkan mencakup sektor perikanan, pertanian, perumahan hingga pertahanan. Program-program tersebut diyakini akan menjadi penggerak pembangunan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, mengatakan penyelenggaraan PENAS XVII telah membuka akses yang lebih luas bagi Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk memperjuangkan berbagai program prioritas di tingkat nasional. Hal itu disampaikannya saat konferensi pers pasca-PENAS XVII di Aula Rumah Dinas Gubernur Gorontalo, Ahad (28/6/2026).
“Kesimpulan saya, semua pintu di Jakarta itu terbuka lebar bagi masyarakat Gorontalo. Membuat apa saja dan mengkreasikan semua program-program kegiatan bersama yang bisa bermanfaat bagi daerah,” ujar Gubernur Gusnar Ismail.
Salah satu capaian terbesar adalah rencana penambahan 42 Kampung Nelayan yang telah mendapat respons positif dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Ketika PENAS ini, kita bersepakat mengusulkan kurang lebih 42 Kampung Nelayan lagi. Dan itu sudah diminta oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan agar segera diajukan,” katanya.
Menurut Gubernur Gusnar Ismail, nilai investasi pembangunan Kampung Nelayan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun dan akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Tak hanya itu, Gorontalo juga ditetapkan sebagai pusat logistik kawasan perikanan. Penetapan tersebut memungkinkan seluruh aktivitas ekspor dan impor hasil perikanan dilakukan langsung dari Gorontalo.
“Yang sangat strategis adalah ditetapkannya pusat logistik untuk kawasan perikanan, di mana di situ akan diurus semua proses ekspor dan impor dari Gorontalo. Kalau keluar dari sini, maka itu jadi ekspor Gorontalo,” jelasnya.
Di sektor pertanian, pemerintah pusat juga memberikan dukungan terhadap sejumlah program hilirisasi, di antaranya pembangunan kawasan industri ayam terintegrasi, pengembangan pembibitan kelapa seluas 10 ribu hektare, kakao seluas 5 ribu hektare, hingga rencana pembangunan pabrik gula berbasis tebu.
Selain itu, Gorontalo memperoleh tambahan bantuan benih tanaman pangan dan dukungan pengembangan sawah baru. Gusnar menyebut keberhasilan demonstrasi teknologi budidaya padi pada Gelar Teknologi PENAS XVII mendapat perhatian khusus dari Menteri Pertanian.
“Pak Menteri Pertanian sudah menginstruksikan seluruh provinsi, kurang lebih satu juta hektare, untuk memakai pola seperti ini. Jadi, seluruh provinsi akan menerapkan hasil gelar teknologi yang ada di Gorontalo,” ungkapnya.
Teknologi budidaya tersebut diklaim mampu meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata 5–6 ton per hektare menjadi 10–12 ton per hektare.
Komitmen strategis lainnya datang dari Perum Bulog yang berencana membangun fasilitas dryer dan silo jagung di Kabupaten Boalemo. Fasilitas tersebut dinilai sangat penting untuk meningkatkan kualitas hasil panen sehingga petani tidak lagi menjual jagung dengan kadar air tinggi yang berdampak pada rendahnya harga jual.
“Direktur Utama Bulog sudah meminta tanah, dan lahannya telah disiapkan oleh Bupati Boalemo untuk pembangunan dryer dan silo jagung. Ini penting karena petani kita masih menjual jagung dengan kadar air tinggi sehingga harganya turun,” ujarnya.
Manfaat pasca-PENAS juga dirasakan di sektor perumahan. Pemerintah pusat menambah alokasi 1.000 unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) setelah melihat keberhasilan Gorontalo dalam mempercepat penerbitan sertifikat rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Sudah ada jaminan dari Pak Menteri. Pertama, program ini menjadi contoh nasional. Kedua, Menteri PKP menambah lagi 1.000 unit untuk rumah-rumah masyarakat miskin. Nah, itu manfaatnya ada PENAS ini,” kata Gusnar Ismail.
Di bidang pertahanan, penyelenggaraan PENAS XVII turut membuka peluang percepatan pembangunan Markas Kodam di Gorontalo apabila ketersediaan lahan terpenuhi. Selain itu, terdapat pula rencana pengembangan Bandara Djalaluddin menjadi pangkalan udara strategis di kawasan utara Indonesia.
“Kalau sudah ada tanah yang cukup di Bandara Djalaluddin, kita bangunkan menjadi pangkalan udara di bagian utara. Ini lebih dekat ke IKN dan lebih dekat mengamankan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI),” ujar Gusnar menirukan penyampaian Kepala Staf Angkatan Udara.
Menurut Gubernur Gusnar Ismail, berbagai komitmen tersebut menjadi bukti bahwa penyelenggaraan PENAS XVII tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata,
melainkan menjadi momentum strategis untuk menarik investasi, memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat,
serta menghadirkan manfaat nyata bagi percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Gorontalo.(Awl)












