Korban tetap yang utama; tamu menunggu giliran. Di sini, etika bencana tidak diumumkan—ia dipraktikkan.
Sekat-sekat formal runtuh. Taruna dan perwira Akmil, personel TNI–Polri, aparatur sipil negara, relawan, dan warga bekerja berdampingan. Kepala Kesbang setempat, Ibu Devi—alumni IPDN—bertutur bahwa pakaian yang ia kenakan saat mendampingi Wakil Bupati menerima kami adalah pakaian layak pakai dari bantuan bencana.
Pengakuan itu sederhana, tetapi menyentuh inti: bencana merontokkan simbol dan memulihkan kemanusiaan.
Di tengah kerja-kerja itu, Mayor Teddy, Om Dandy—dengan rompi lapangan BPBD—didatangi warga yang meminta perlengkapan kerja agar dapat membersihkan rumah sendiri.
Negara hadir dalam bentuk paling konkret: sekop, cangkul, sarung tangan. Bukan janji; alat untuk bangkit.
Sebagai Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo, saya berdiri dengan kacu merah putih di leher. Bukan seremoni.
Nilai Dasa Darma menemukan praktiknya. Beberapa ibu-ibu pengungsi meminta bantuan merapikan tenda—ruang antara kehilangan dan harapan. Kami menarik tali, menegakkan tiang, merapikan alas. Tenda bukan rumah; ia jeda dari hujan dan dingin malam.
Di sanalah martabat dijaga: anak-anak menahan takut, para ibu menata sabar, para ayah menakar tenaga untuk esok hari. Iman diuji bukan hanya di sajadah, melainkan di lumpur.












