Di Pesantren Darul Mukhlisin, harapan perlahan menemukan jalannya. Pesantren yang sempat viral karena menahan ribuan kubik kayu saat banjir bandang 26 November 2025, kini mulai lapang.
Dengan 20 unit alat berat, dukungan TNI, BNPB, Kementerian PUPR, dan warga, pembersihan dilakukan siang-malam—sebagian manual. Memulihkan ruang belajar berarti menyelamatkan masa depan.
Perjalanan ini berlangsung ketika negara dan daerah tengah menjalani efisiensi anggaran. Banyak yang memilih menunggu kelonggaran fiskal.
Sang Wali Kota Gorontalo memilih bergerak. Di bawah teladan Adhan Dambea dan Indra Gobel, kepedulian dimulai dari kantong pribadi, lalu diikuti pimpinan OPD, para pejabat, anggota Korpri, hingga anak-anak Pramuka. Tanpa paksaan. Teladan menular. Dalam kepemimpinan, contoh sering kali lebih kuat daripada perintah.
Pulang pun tidak mudah. Sulitnya penerbangan membuat Mayor Teddy, om Dandy dan saya tidak memperoleh tiket kembali melalui Bandara Kualanamu Medan. Kami menempuh perjalanan darat sekitar delapan jam dari Aceh Tamiang menuju Banda Aceh. Delapan jam itu menjadi ruang renung: jika kami saja letih, betapa panjang jalan pemulihan warga yang harus memulai dari nol—membersihkan, membangun, memulihkan rasa aman.
Sebagai antropolog yang diberi tugas oleh Wali Kota, saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: negara paling hadir ketika ia bersedia merendah. Kepemimpinan tidak diukur dari jarak aman yang dijaga, melainkan dari langkah yang dipendekkan. Gorontalo menyapa Aceh Tamiang bukan dengan gegap gempita, melainkan kehadiran yang setia.
Di Serambi Mekah yang terendam, saya belajar kembali makna Indonesia: ketika anggaran menyempit, keteladanan meluaskan kemungkinan; ketika beton runtuh, solidaritas berdiri paling tegak. Di bawah kacu merah putih, di antara rompi lapangan dan tenda pengungsian, saya menyaksikan wajah negara yang paling jujur—hadir, bekerja, dan berdiri sejajar.












