Headline

Usulan Pilkada oleh DPRD, DEEP: Peluang Karpet Merah Bagi Oligarki Daerah

×

Usulan Pilkada oleh DPRD, DEEP: Peluang Karpet Merah Bagi Oligarki Daerah

Share this article
Usulan Pilkada oleh DPRD, DEEP_ Peluang Karpet Merah Bagi Oligarki Daerah
Direktur DEEP Indonesia, Neni Nur Hayati.

Hargo.co.id, JAKARTA – Direktur Democracy and Election Empowerment Partnerhsip (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati secara tegas menyoroti wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke DPRD yang kini mulai digulirkan oleh koalisi partai-partai besar yakni Golkar, Gerindra, PKB dan Nasdem.

Berita Terkait:  RUPS BSG Angkat Riris Ismail Sebagai Komisaris, Kompetensi Jadi Landasan Keputusan

Sementara PAN, PKS dan Demokrat masih melakukan kajian mendalam. Hanya satu partai yang melakukan penolakan tegas atas wacana ini yakni PDIP.

DEEP Indonesia menilai usulan ini bukan sekadar solusi teknis atas biaya politik tinggi, melainkan sebuah ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat yang telah diperjuangkan sejak era reformasi.

Berita Terkait:  Komisi II Dekab Gorut Pelototi Lanjutan Pekerjaan Jalan Bypass Pontolo

Pencabutan Mandat Rakyat Secara Paksa. Pilkada langsung adalah instrumen utama di mana rakyat memiliki kuasa penuh untuk menentukan nasib daerahnya.

Mengembalikan pemilihan ke DPRD sama saja dengan memenjarakan hak suara rakyat di dalam gedung parlemen.

Berita Terkait:  Tanpa Seremoni Mewah, Gorontalo Post Pilih Berbagi di Usia ke-26

Deep Indonesia memandang ini sebagai bentuk elite capture, di mana kepala daerah nantinya tidak lagi berutang budi kepada konstituen, melainkan kepada segelintir pimpinan fraksi partai politik.

Biaya Politik Tidak Hilang, Hanya Berpindah Lokasi. Argumen bahwa Pilkada langsung boros anggaran adalah logika yang menyesatkan. Demokrasi memang berbiaya, karena itu adalah investasi untuk akuntabilitas.

Berita Terkait:  Kejari Kabgor Periksa Kepala Bapelitbangda, Dalami Kasus Dugaan Korupsi TKI

Dengan mengalihkan pemilihan ke DPRD, biaya politik tidak akan hilang; ia hanya akan berpindah dari panggung terbuka ke “pasar gelap” transaksional di ruang-ruang tertutup.

Potensi politik uang justru semakin pekat karena kandidat hanya perlu melobi puluhan anggota dewan, bukan meyakinkan jutaan rakyat. Satu kursi bisa dihargai dengan biaya yang sangat tidak wajar.
Berita Terkait:  Prabowo di PENAS XVII Gorontalo: Petani-Nelayan Penjaga Kedaulatan Indonesia

Laporan Dana Kampanye yang Jauh Dari Transparansi dan Akuntabilitas. Partai dan kandidat kerapkali mengeluh karena biaya politik mahal tetapi tidak pernah tercermin dalam laporan dana kampanye.

Kandidat hanya melaporkan dana kampanye asal-asalan dan prosedural untuk menggugurkan kewajiban.

Berita Terkait:  Daging Murah

Temuan DEEP Indonesia di Pemilihan Serentak 2024, ada 13 temuan kandidat kepala daerah yang melaporkan laporan awal dana kampanye (LADK),

laporan penerimaan sumbangan dana kampanye (LPSDK) dan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye (LPPDK)

Berita Terkait:  Menpora Dito Minta maaf Soal Aset Berstatus Hadiah Rp 162 M

yang minim padahal sangat sering melakukan kampanye serta baliho dan spanduk terpasang dimana-mana.

Ketika yang menjadi alasan pilkada dipilih oleh DPRD adalah biaya politik yang mahal,

Berita Terkait:  Beli Gas LPG 3 Kg, Wajib Bawa KTP

maka solusinya bukan mengubah sistem pemilihan tetapi transparansi dana kampanye agar publik dapat melihat secara komperhensif

termasuk menjawab dan membongkar apakah benar atau tidak ada mahar politik yang sudah ditetapkan di internal partai.

Berita Terkait:  Polresta Gorontalo Kota Ungkap Perdagangan Orang di Tempat Hiburan Malam

Risiko Disintegrasi dan Hilangnya Kontrol Publik Berdasarkan pemantauan Deep Indonesia terhadap berbagai isu krusial di daerah—seperti

penanganan bencana di Sumatera dan konflik sumber daya alam—kepala daerah yang dipilih langsung

Berita Terkait:  Tes Urine, Satu Warga Binaan Lapas Pohuwato Positif

memiliki beban moral dan legitimasi untuk hadir di tengah rakyat.

Jika dipilih DPRD, kepala daerah akan menjadi “petugas partai” yang lebih takut dicopot oleh koalisi dewan daripada dihujat oleh rakyat yang sedang menderita.

Berita Terkait:  Kejari Kabgor Periksa Kepala Bapelitbangda, Dalami Kasus Dugaan Korupsi TKI

Sentimen Pemberitaan dan Respon Percakapan di Ruang Publik.

Merujuk data Deep Intelligence Research (DIR), yang melakukan penarikan data dari tanggal 27 Desember – 3 Januari 2025 Pukul 20.00 Wib

Berita Terkait:  Beli Gas LPG 3 Kg, Wajib Bawa KTP

dengan keyword Pilkada Tidak Langsung dan Pilkada Dipilih DPRD, terdapat 281 pemberitaan di media cetak,

online dan elektronik dengan sentiment positif 52 persen, 1 persen netral dan 47 persen negatif.

Berita Terkait:  Prabowo di PENAS XVII Gorontalo: Petani-Nelayan Penjaga Kedaulatan Indonesia

Sementara dalam percakapan di media sosial, yaitu X, Facebook, Instagram, Youtube dan Tiktok didominasi oleh sentiment netral dan negatif.

Artinya Pilkada dipilih oleh DPRD ini didukung elite partai namun mendapat penolakan dari rakyat yang tercapture dalam percakapan di sosial media.

Berita Terkait:  Daging Murah

Atas dasar hasil kajian kualitatif pemantauan di lapangan dan kuantitatif melalui media monitoring dan menganalisis percakapan publik di media, DEEP menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Hentikan Eksperimen Demokrasi yang Mundur dan Praktik Mahar Politik Partai Pengusung: Mengembalikan pilkada dipilih oleh DPRD bukanlah solusi. Sebab, penyebab mahalnya biaya politik adalah adanya mahar politik, pembiayaan kampanye serta pembiayaan saksi.

Berita Terkait:  Tes Urine, Satu Warga Binaan Lapas Pohuwato Positif

Partai politik seharusnya fokus pada perbaikan sistem kaderisasi dan penekanan biaya kampanye, transparansi dan akuntabilitas dalam laporan dana kampanye, massif melaukan edukasi politik untuk rakyat, memperbaiki aspek manajemen pilkada, memperkuat penegakan hukum bukan justru menghapus hak pilih rakyat.

2. Transparansi dan Akuntabilitas Publik: Mendesak partai-partai pengusung untuk membuka ruang dialog publik yang transparan, termasuk hasil kajian ilmiah di internal partai bukan sekadar kesepakatan elit di balik pintu tertutup.

Berita Terkait:  Komisi II Dekab Gorut Pelototi Lanjutan Pekerjaan Jalan Bypass Pontolo

3. Penguatan Integritas Daerah: Meminta pemerintah untuk tetap menjaga marwah Pilkada langsung sebagai katup pengaman agar ketidakpuasan masyarakat daerah tidak meledak menjadi gerakan radikal akibat buntunya saluran aspirasi formal.

4. Mendengarkan Suara Rakyat. DEEP mendesak kepada para ketua umum partai politik untuk dapat mendengarkan suara rakyat karena partai dan para legislative yang terpilih adalah mandataris rakyat sehingga lebih banyak mendengar adalah kemampuan terbaik dalam komunikasi.

Berita Terkait:  RUPS BSG Angkat Riris Ismail Sebagai Komisaris, Kompetensi Jadi Landasan Keputusan

Pilkada oleh DPRD adalah pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi kita menciut hanya karena alasan efisiensi semu yang justru memperkuat posisi oligarki di daerah. Neni mengutip apa yang disampaikan oleh Lord Acton Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” tegas Direktur DEEP Indonesia.(Rls)