Oleh: Husin Ali, Antropolog.
SAYA pertama kali mendengar kalimat “birokrasi adalah keteraturan” justru pada masa ketika saya paling keras menentang birokrasi. Saat itu saya masih Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo.
Dunia yang saya hidupi adalah dunia gerakan, kritik, dan keyakinan bahwa perubahan hanya mungkin lahir dengan memotong prosedur. Dalam pandangan saya kala itu, birokrasi adalah simbol kelambanan negara, lapisan meja dan aturan yang menjauhkan pembangunan dari rakyat.
Dalam satu percakapan yang hangat, seorang senior mendengarkan kegelisahan saya tanpa menyela. Ia tidak membantah, tidak pula menggurui.
Ia hanya berkata pelan, seolah menanam pesan ke masa depan: “Birokrasi itu keteraturan. Suatu hari, ketika kamu diberi kesempatan menjadi birokrat, kamu akan tahu apa makna kalimat itu.”
Saya tidak setuju. Bahkan mungkin saya menganggapnya pembelaan status quo. Namun, seperti banyak nasihat yang baik, kalimat itu tidak menuntut persetujuan segera—ia menunggu waktu.
Kini ketika saya mulai menekuni posisi saya sebagai antropolog yang lahir dari pendidikan doktoral saya di Universitas Hasanuddin Makassar, saya memahami kini bahwa makna sosial sering baru terbaca ketika seseorang berpindah posisi.












