Bahkan program Danantara yang disebut-sebut akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi,
pada kenyataannya justru lebih banyak mendorong efisiensi tak terkendali ketimbang membuka ruang hidup bagi rakyat kecil.
Selama pendekatan seperti ini terus dilanggengkan, angka pengangguran hanya akan terus merambat naik tanpa arah penyelesaian yang sungguh-sungguh.
Optimisme yang terlalu tinggi dari pemerintah soal kondisi ekonomi nasional, pada akhirnya malah menjebak mereka dalam kesalahan diagnosa terhadap akar persoalan.
Salah satu contohnya adalah ketika Kemenaker menyebut bahwa dua tantangan utama pengangguran di Indonesia terletak pada tergantikannya tenaga manusia oleh mesin dan minimnya kelincahan masyarakat dalam mencari kerja (agility).
Alih-alih menyentuh akar persoalan, solusi yang ditawarkan pun tampak sekadar tambal sulam.
Untuk menjawab tantangan otomasi, pengusaha justru diminta menurunkan tingkat penggunaan teknologiāsebuah langkah yang terdengar irasional di tengah laju dunia yang justru semakin terdigitalisasi.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah agility, pelatihan vokasi kembali diandalkan sebagai solusi pamungkas: mulai dari program upskilling, reskilling,
hingga pembentukan mental tahan banting yang dikemas dengan jargon kekinian seperti one-tech dan daya juang.












