Banyak dari mereka yang akhirnya harus menerima pekerjaan yang jauh dari bidang keilmuannya—menjadi supir, staf kebersihan,
pengasuh bayi, bahkan pembantu rumah tangga. Fakta ini menyiratkan bahwa masalah terbesar bukanlah pada kapasitas atau kemauan pekerja,
melainkan karena lapangan kerja itu sendiri memang tidak tersedia.
Kalaupun ada, jumlahnya terlalu timpang dibandingkan dengan lautan tenaga kerja yang terus mengantre setiap tahunnya tak bisa disangkal,
rendahnya skill pencari kerja memang berperan dalam tingginya angka pengangguran, tapi itu hanya persoalan permukaan.
Buktinya, meski pelatihan vokasi digalakkan, pengangguran tetap tinggi—terutama di kalangan lulusan SMK yang ironisnya justru lebih banyak menganggur dibanding lulusan SMA.
Akar persoalan sejatinya terletak pada sistem ekonomi kapitalisme yang dianut hari ini.
Dalam sistem kapitalisme yang berlaku saat ini, banyak sektor strategis, seperti sumber daya alam, pendidikan, dan ketenagakerjaan,
dikelola dengan orientasi keuntungan yang lebih mengutamakan perusahaan besar dan individu elit, sementara rakyat banyak yang justru terpinggirkan.
Contohnya, pengelolaan sumber daya alam sering kali dilakukan oleh perusahaan swasta asing yang lebih fokus pada keuntungan,












