Persepsi

Negeri Kaya yang Tak Memberi Kerja

×

Negeri Kaya yang Tak Memberi Kerja

Share this article
Negeri Kaya yang Tak Memberi Kerja
Ilustrasi. (Foto: Radar Bojonegoro)

Banyak dari mereka yang akhirnya harus menerima pekerjaan yang jauh dari bidang keilmuannya—menjadi supir, staf kebersihan,

Berita Terkait:  Ketika Bandara Mengajar: Make Up School dan Cara Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

pengasuh bayi, bahkan pembantu rumah tangga. Fakta ini menyiratkan bahwa masalah terbesar bukanlah pada kapasitas atau kemauan pekerja,

melainkan karena lapangan kerja itu sendiri memang tidak tersedia.

Berita Terkait:  346 Tahun Penguasaan Emas Gorontalo

Kalaupun ada, jumlahnya terlalu timpang dibandingkan dengan lautan tenaga kerja yang terus mengantre setiap tahunnya tak bisa disangkal,

rendahnya skill pencari kerja memang berperan dalam tingginya angka pengangguran, tapi itu hanya persoalan permukaan.

Berita Terkait:  Generasi Kreatif yang Tersandera Krisis Mental

Buktinya, meski pelatihan vokasi digalakkan, pengangguran tetap tinggi—terutama di kalangan lulusan SMK yang ironisnya justru lebih banyak menganggur dibanding lulusan SMA.

Akar persoalan sejatinya terletak pada sistem ekonomi kapitalisme yang dianut hari ini.

Berita Terkait:  Ketakutan akan Sunyinya Perlawanan

Dalam sistem kapitalisme yang berlaku saat ini, banyak sektor strategis, seperti sumber daya alam, pendidikan, dan ketenagakerjaan,

dikelola dengan orientasi keuntungan yang lebih mengutamakan perusahaan besar dan individu elit, sementara rakyat banyak yang justru terpinggirkan.

Berita Terkait:  Officium Nobile, Pertahankan Kebebasan Tenaga Medis dan Kesehatan dalam Melakukan Praktik di Fasilitas Kesehatan Gorontalo

Contohnya, pengelolaan sumber daya alam sering kali dilakukan oleh perusahaan swasta asing yang lebih fokus pada keuntungan,

tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.
Berita Terkait:  Globalisasi dan Budaya Pop: Fenomena Trio Barbie