Legislatif

Dekot Desak Pemkot Gorontalo Segera Selesaikan Persoalan Aset Lahan yang Ditempati BSG

×

Dekot Desak Pemkot Gorontalo Segera Selesaikan Persoalan Aset Lahan yang Ditempati BSG

Share this article
Dekot Desak Pemkot Gorontalo Segera Selesaikan Persoalan Aset Lahan yang Ditempati BSG
Kantor Cabang BSG Gorontalo.

Hargo.co.id, GORONTALO – DPRD Kota Gorontalo mendesak pemerintah daerah setempat untuk segera menuntaskan persoalan aset berupa lahan yang kini ditempati Bank SulutGo (BSG) sebagai kantor cabang mereka.

Berita Terkait:  Terkait Dampak Musim Kemarau, DPRD Gorut Minta Eksekutif Lakukan Pemetaan

Desakan ini lahir karena harga sewa BSG dinilai sangat rendah dan merugikan daerah.

“Nilai kontraknya itu Rp. 200 juta selama 30 tahun. Kalau kita kalkulasi, tiap bulan yang dibayar BSG hanya Rp 500 ribu. Nilainya sangat rendah, sama seperti mahasiswa menyewa kos-kosan,” kata anggota Komisi III DPRD Kota Gorontalo, Totok Bachtiar, Senin (10/11/2025).

Berita Terkait:  Astaga! Memasuki Pertengahan Tahun, Program Pembangunan di Bonbol Belum Terealisasi

Dengan angka seperti itu, Totok meminta Pemkot Gorontalo tidak memperpanjang kontrak dengan BSG.

“Alfamidi saja yang di Jalan Nani Wartabone kontraknya Rp 150 juta pertahun. Jadi, sebaiknya tidak perlu melakukan perpanjangan kontrak,” tandas aleg dari Partai Golongan Karya (Golkar) itu.

Berita Terkait:  Dua Fraksi DPRD Kabgor Soroti 15 Pekerjaan Putus Kontrak

Totok menyarankan, Pemkot Gorontalo yang kini dinakhodai Adhan Dambea sebagai wali kota dan Indra Gobel selaku wakilnya, segera menarik aset lahan tersebut, untuk selanjutnya digunakan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) baru yang akan terbentuk, yakni Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).

“Lebih baik tarik saja, kemudian digunakan untuk kantor Bapenda,” ucap Totok.

Berita Terkait:  Kembangkan Lintas Sektoral, Deasy: Butuh Dukungan Infrastruktur Memadai

Terkait persoalan ini, Pemkot Gorontalo sudah melayangkan somasi ke BSG. Namun, somasi itu tidak digubris.

Selain somasi, Pemkot Gorontalo juga telah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Gorontalo lantaran selama empat tahun, diduga BSG tidak melakukan pembayaran kontrak.

Berita Terkait:  Penanganan TPA Molantadu Butuh Kerjasama Berbagai Pihak

Akibatnya, Pemerintah Kota Gorontalo mengalami kerugian sebesar Rp. 6,6 miliar.

“Itu terjadi selang tahun 2003 hingga 2007. Di mana kontrak telah berakhir, namun aset daerah tetap digunakan BSG. Pembayaran hanya dilakukan mulai dari 2007,” ujar Kuasa Hukum Pemkot Gorontalo, Ardi Wiranata Arsad ketika diwawancarai pewarta beberapa waktu lalu.(Ndi) 

Berita Terkait:  Aleg Dekot Soroti Kabel dan Tiang Menumpuk di Kota Gorontalo