Oleh: Husin Ali
Catatan Seorang Antropolog dalam Perjalanan Kemanusiaan
SABTU itu, ketika Jakarta melambat dalam ritme akhir pekan, sebuah amanah justru mempercepat langkah kami. Pesan dari Wali Kota Gorontalo, H. Adhan Dambea, singkat dan bersahaja: berangkatlah, lihatlah dengan mata kepala sendiri, dan sampaikan kepedulian Gorontalo kepada saudara-saudara kita di Aceh Tamiang. Bagi saya—seorang antropolog yang diberi tugas—perjalanan ini bukan tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang kehadiran yang direndahkan: hadir tanpa sikap menggurui, tanpa jarak simbolik.
Kami berangkat dari Jakarta pada hari Sabtu dan tiba pada Minggu di Kabupaten Aceh Tamiang.
Rombongan dipimpin Wakil Wali Kota Gorontalo Bapak Indra Gobel, didampingi Plt. Kepala BPBD Kota Gorontalo—akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, Dandy—Kepala Dinas Sosial, Kepala Bagian Pemerintahan, Kepala Bagian Ekonomi, serta saya sendiri yang mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa sekaligus Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo. Tidak ada seremoni penyambutan.
Yang menyambut adalah lumpur yang belum kering, bau kayu basah, dan wajah-wajah yang berusaha tetap tenang.












