Kabar Nusantara

APKASI, APEKSI, ADKASI dan ADEKSI Kompak Surati Presiden Gegara TKD Dipangkas

×

APKASI, APEKSI, ADKASI dan ADEKSI Kompak Surati Presiden Gegara TKD Dipangkas

Share this article
APKASI, APEKSI, ADKASI dan ADEKSI Kompak Surati Presiden Gegara TKD Dipangkas
Potongan notulen APKASI, APEKSI, ADKASI dan ADEKSI.

Hargo.co.id, GORONTALO – Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) dan Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI) bersepakat akan menyurati Presiden RI, Prabowo Subianto lantaran transfer keuangan daerah (TKD) dipangkas.

Berita Terkait:  Operasi Otanaha Mulai Digelar, Berikut 10 Sasaran Utamanya

Kesepakatan ini diputuskan pada zoom meeting, yang selanjutnya dituangkan dalam notulen.

Pada rapat itu, terungkap pengurangan TKD mencapai sekitar Rp 171 triliun, menurunkan pagu awal dari Rp 864 triliun menjadi Rp 693 triliun.

Berita Terkait:  Helena Fiorentina, Taruna Akpol Polri Raih Juara Dalam Kompetisi Esai Internasional

Dampak dari pengurangan sebesar ini dipandang sangat serius, karena TKD merupakan salah satu sumber utama pembiayaan APBD yang mendukung penyelenggaraan layanan publik dan pembangunan daerah.

Pengurangan yang mendadak ini berpotensi menimbulkan kesulitan fiskal yang parah di banyak daerah. Pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan pemeliharaan infrastruktur dapat terganggu, sementara proyek-proyek pembangunan penting berisiko tertunda.

Berita Terkait:  Divisi Humas Polri Diminta Perkuat Cooling System dan Jaga Netralitas Hadapi Pemilu 2024

Kondisi ini juga dapat memicu turbulensi ekonomi lokal, termasuk berkurangnya aktivitas usaha dan peningkatan risiko pemutusan hubungan kerja.

Selain dampak fiskal dan ekonomi, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk resentralisasi anggaran yang melemahkan prinsip otonomi daerah pasca Reformasi 1998.

Berita Terkait:  Penghapusan Tenaga Honorer, Bawaslu RI: Berdampak pada Pemilu 2024

Banyak pemerintah daerah merasa semangat desentralisasi yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade terancam,

karena hak daerah untuk mengelola sumber daya dan perencanaan pembangunan menjadi terbatas akibat keputusan sepihak ini

Berita Terkait:  Ketum PDIP Megawati Hadiri Sidang Tahunan 2023

terkait pengurangan TKD yang signifikan tanpa koordinasi yang memadai dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Keuangan.

Terungkap pula, jika pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) yang menjadi hak daerah pun kini tidak jelas lagi alasan.

Berita Terkait:  Seruan PWI Gorontalo Terkait Pencegahan Bunuh Diri

Padahal, DBH merupakan amanat Undang-Undang dengan tujuan utama mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi,

sehingga daerah memiliki otonomi untuk mengelola sumber daya dan program yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Berita Terkait:  Festival Maledungga, Upaya Merawat Tradisi dan Budaya Daerah

Menurut empat asosiasi ini, dampak pengurangan TKD, membuat pemerintah daerah menghadapi kondisi fiskal yang sudah lemah.

Pemotongan TKD akan berdampak serius, sehingga APBD tidak lagi cukup untuk membiayai aktivitas pemerintahan dasar, apalagi Pembangunan, yang tentunya akan berdampak pada, program-program prioritas daerah, seperti perbaikan jalan, jembatan, dan irigasi, akan terhambat.

Berita Terkait:  Ibadah di Bulan Ramadan Harus Konsisten

Selain itu, proyek-proyek pembangunan yang tertunda dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menurunkan aktivitas ekonomi lokal, daya beli akan menurun yang mengakibatkan melonjaknya inflasi.

Yang menjadi sorotan adalah ketidakjelasan dan ketiadaan sosialisasi tentang pemotongan TKD dilakukan tanpa pemberitahuan resmi atau surat yang menjelaskan alasan dan dasar hukumnya.

Berita Terkait:  Sejumlah Jalur Bakal Ditutup saat Tamu Negara KTT AIS Forum 2023 Melintas, Polri Minta Maaf

Seharusnya, pemerintah pusat duduk bersama dengan pemerintah daerah terkait dengan pengurangan TKD, termasuk didalamnya Dana Bagi Hasil yang tidak jelas alasan pemotongannya.

Selain itu, informasi yang beredar di publik, dengan penambahan TKD sebesar 45 Triliun, TKD tahun 2026 seolah-olah bertambah. Padahal, sebenarnya terjadi pengurangan yang signifikan sejak tahun 2025.

Berita Terkait:  Terkait Penindakan 4 WNA di Pohuwato, Disnakertrans Apresiasi Kantor Imigrasi Gorontalo

APKASI, APEKSI, ADKASI dan ADEKSI menyarankan penyesuaian alokasi anggaran pusat yang saat ini masih memprioritaskan sektor tertentu,

seperti pertahanan (alutsista) dan Polri, sementara alokasi untuk kesejahteraan masyarakat, termasuk kesehatan dan pendidikan, justru mengalami pemangkasan.

Berita Terkait:  Helena Fiorentina, Taruna Akpol Polri Raih Juara Dalam Kompetisi Esai Internasional

Disarankan agar anggaran non-prioritas ditunda atau dialihkan untuk memperkuat transfer ke daerah, sehingga dampak pemotongan dapat diminimalkan.

Begitu juga, alokasi anggaran program nasional yang berlum terserap secara optimal dapat digeser untuk penguatan TKD.

Berita Terkait:  Ketum PDIP Megawati Hadiri Sidang Tahunan 2023

Rapat itu, juga memutuskan empat asosiasi tersebut akan melakukan koordinasi lebih lanjut untuk menentukan

jadwal audiensi dengan Presiden dan menteri terkait, serta menyiapkan materi dan delegasi yang akan datang ke Jakarta.(Ndi) 

Berita Terkait:  Festival Maledungga, Upaya Merawat Tradisi dan Budaya Daerah