Hargo.co.id, GORONTALO – Pengembangan energi bersih dan pengelolaan limbah nonmedis menjadi dua fokus penelitian yang dievaluasi melalui program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi di Puskesmas Biluhu, Kabupaten Gorontalo.
Evaluasi tersebut berlangsung dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) akhir tahun program PAIR Sulawesi 2026 di Desa Lobuto, Kecamatan Biluhu, Jumat (9/10/2026).
Program ini merupakan kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Australia melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT).
Dua penelitian yang dibahas dalam monev tersebut masing-masing berfokus pada teknologi dan infrastruktur untuk transisi net zero puskesmas serta transformasi pengelolaan limbah nonmedis di puskesmas Kota Manado dan Kabupaten Gorontalo.
Pada penelitian NZ 2.1, tim periset yang dipimpin Prof. Arsyad mengkaji kebutuhan infrastruktur puskesmas yang rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Kajian tersebut mencakup penyediaan energi, air bersih, sanitasi, pengolahan air limbah, hingga kondisi bangunan.
Hasil penelitian diarahkan pada penyusunan rancangan teknologi yang mencakup tiga aspek utama. Pertama, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan skenario terhubung ke jaringan listrik (on-grid), mandiri (off-grid), dan kombinasi (hybrid).
Kedua, pemanfaatan air hujan melalui sistem rainwater harvesting untuk mendukung ketersediaan air bersih. Ketiga, pengembangan instalasi pengolahan air limbah.
Prof. Arsyad menjelaskan, pendekatan riset tersebut menempatkan infrastruktur sebagai satu sistem pelayanan yang terintegrasi. Penyusunan data dasar, rancangan awal, serta analisis kebutuhan energi, air, sanitasi, dan bangunan menjadi bagian dari tahapan penelitian.
Desain teknologi yang dihasilkan diharapkan dapat dikolaborasikan dengan pemerintah daerah sehingga berpeluang diterapkan sesuai kebutuhan puskesmas dan masyarakat.
Sementara itu, penelitian NZ 2.5 yang dipimpin Dr. Eng. Ridwan Rahim membahas transformasi pengelolaan limbah nonmedis dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan model pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, mulai dari proses pengumpulan hingga pengolahan.
Tim periset merekomendasikan penguatan infrastruktur pengolahan, optimalisasi rantai pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, serta penyusunan peta jalan untuk mendukung intervensi kebijakan dan regulasi.
Hasil akhirnya diharapkan berupa rancangan model pengelolaan limbah nonmedis yang dapat diterapkan di Puskesmas Biluhu.
Dari sisi pemerintah daerah, Fungsional Peneliti Bidang Litbang Bappeda Provinsi Gorontalo, Mahyudin Humalanggi, menyampaikan bahwa dukungan terhadap penelitian NZ 2.1. Menurutnya, penelitian tersebut dapat berkontribusi terhadap pengambilan keputusan dan memperkuat penyusunan arah kebijakan yang sesuai dengan isu strategis daerah.
Adapun terkait penelitian NZ 2.5, Fungsional Peneliti Bidang Litbang Bappeda Provinsi Gorontalo, Nancy N. Lantapon, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah melaksanakan kajian tata kelola persampahan pada 2025. Kajian tersebut ditindaklanjuti pada 2026 melalui evaluasi terhadap Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang pengelolaan sampah.
Berdasarkan hasil sementara evaluasi terhadap 46 pasal dalam regulasi tersebut, sekitar 60 persen dinilai layak untuk disesuaikan dengan ketentuan terbaru.
Pemerintah daerah juga berharap penelitian NZ 2.5 tidak berhenti pada penyusunan dokumen rekomendasi, tetapi dapat dikembangkan hingga menghasilkan teknologi pengolahan sampah plastik.
Teknologi tersebut diharapkan membantu pengelolaan limbah nonmedis di Puskesmas Biluhu secara lebih efektif, mengurangi kebutuhan pengiriman limbah melalui pihak ketiga, serta menekan biaya operasional.
Dukungan terhadap pengembangan kedua penelitian juga disampaikan perwakilan Pemerintah Australia untuk Indonesia, Rio.
Dukungan tersebut meliputi penguatan publikasi pada jurnal internasional, penyempurnaan rekomendasi kebijakan berbasis bukti,
serta pengembangan desain percontohan dan replikasi model puskesmas berkelanjutan.
Melalui monev ini, kedua penelitian diarahkan pada tahapan lanjutan berupa validasi teknis,
penyempurnaan desain, penyusunan rancangan percontohan, penguatan pemantauan kinerja,
serta penyebarluasan rekomendasi kebijakan kepada para mitra.
Hasilnya diharapkan menjadi dasar pengembangan infrastruktur puskesmas yang rendah karbon dan pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.(Diyanti)












