Tanpa ketiga elemen tersebut, sektor pariwisata alam mudah berubah menjadi model ekstraksi nilai yang mengandalkan lanskap ekologis,
tetapi tidak memberikan imbal balik memadai bagi penjaga lanskap tersebut.
Ancaman terhadap ekowisata Gorontalo dapat ditinjau dari dua dimensi: ekologis dan kelembagaan.
Dari sisi ekologis, kawasan penyelaman, terumbu karang Teluk Tomini, dan ekosistem mangrove pesisir rentan terhadap tekanan kunjungan yang tidak terkelola dengan baik.
Ketika rata-rata lama menginap tetap rendah (sekitar 1,4 hari) sementara promosi “wisata bahari” meningkat, muncul fenomena high turnover – low appreciation,
yaitu wisatawan melakukan aktivitas eksplorasi cepat tanpa proses edukasi, interpretasi, dan konservasi yang memadai.
Dalam banyak destinasi, pola kunjungan semacam ini berhubungan dengan meningkatnya volume sampah laut,
kerusakan karang akibat aktivitas snorkeling massal, serta tekanan terhadap spesies endemik.












