Persepsi

Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

×

Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

Share this article
Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan
Ilustrasi. (AI)
Perlu kita lihat bahwa kemiskinan bukan sekadar akibat pilihan pribadi. Ia sering kali adalah hasil dari struktur ekonomi, keterbatasan lapangan kerja, distribusi sumber daya yang timpang.
Berita Terkait:  Peran Strategis Organisasi Profesi Dalam Transformasi Sistim Kesehatan Indonesia

Ketika publik hanya menyalahkan orang tua, perhatian kita bergeser dari pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah sistem negara kita sudah benar-benar memberi jaminan kesejahteraan bagi masyarakatnya?

Meskipun, memang kita tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap apa yang sering disebut sebagai kemiskinan kultural.

Berita Terkait:  Idul Adha dan Kepemimpinan Moral

Dalam sejumlah kasus, memang terdapat pola perilaku yang berulang: rendahnya motivasi kerja, kurangnya perencanaan jangka panjang, sikap pasrah pada keadaan, hingga ketergantungan pada bantuan.

Ada keluarga yang sulit keluar dari lingkar kemiskinan karena tidak mengembangkan keterampilan baru, enggan merantau untuk peluang kerja, atau tidak memprioritaskan pendidikan anak.

Berita Terkait:  Saat Wali Kota Gorontalo Turun, Birokrasi Tak Bisa Lagi Berlindung di Balik Meja

Pandangan ini kerap dijadikan dasar argumen bahwa kemiskinan adalah konsekuensi dari pilihan individu.

Dalam kerangka berpikir ini, solusi yang ditawarkan pun cenderung moralistik: ubah mentalitas, tingkatkan etos kerja, berhenti menyalahkan keadaan. Namun, berhenti pada penjelasan ini berisiko menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Berita Terkait:  Pengrusakan Alat Kerja Jurnalis: Bukti Polisi Masih Represif

Perlu diingat, budaya bukanlah sesuatu yang tumbuh di ruang kosong. Ia dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, dan sejarah yang panjang. Sikap pasrah bisa lahir dari pengalaman kegagalan berulang.

Rendahnya motivasi bisa muncul dari lingkungan yang tidak menyediakan peluang nyata untuk mobilitas sosial.

Berita Terkait:  Menempatkan Kewenangan Jalan Secara Tepat

Ketika akses pendidikan buruk sehingga tidak adanya jaminan kerja yang layak, lapangan kerja sempit, dan upah tidak layak untuk pekerjaan yang tidak main-main, maka yang tampak sebagai “malas” bisa jadi adalah bentuk kelelahan yang diwariskan lintas generasi. Di sinilah kita perlu melangkah lebih jauh.

Kemiskinan struktural merujuk pada situasi ketika sistem sosial dan ekonomi secara sistematis membatasi akses individu terhadap sumber daya.
Berita Terkait:  Air Mata Warga di Penghujung Masa Jabatan Bupati

Ketimpangan pembangunan antar wilayah, distribusi bantuan yang tidak tepat sasaran, akses pendidikan yang timpang, minimnya infrastruktur, serta sempitnya lapangan kerja formal adalah contoh faktor-faktor struktural.