Persepsi

Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

×

Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Sepuluh Ribu Rupiah dan Harga Sebuah Kehidupan
Ilustrasi. (AI)
Dalam sistem kapitalisme sekuler, negara tidak berdiri sebagai penanggung jawab langsung atas seluruh pemenuhan kebutuhan individu.
Berita Terkait:  Gerilya Sosial Gusnar Ismail: Bantuan Langsung Pangan dan Kepekaan Sosial Pemimpin Daerah

Perannya lebih sering diposisikan sebagai pengatur pasar dan pengelola kebijakan fiskal, bukan sebagai penjamin kesejahteraan per individu. Sumber pendanaan negara pun sangat bergantung pada pajak dan utang.

Pajak menjadi tulang punggung penerimaan, sementara utang menjadi instrumen untuk menutup defisit ketika penerimaan tak mencukupi.

Berita Terkait:  Iing Casdirin: Tekun, Bersahaja, dan Konsisten

Akibatnya, negara cenderung memprioritaskan program yang memiliki dampak makro, efek politis, atau nilai elektoral yang tinggi.

Sementara kebutuhan yang tampak “kecil” tidak selalu terlihat dalam radar kebijakan nasional. Bukan karena negara tidak tahu, tetapi karena desain sistemnya memang tidak menempatkan pemenuhan kebutuhan individu sebagai poros utama.

Berita Terkait:  Negeri Kaya yang Tak Memberi Kerja

Di sinilah korelasinya menjadi jelas: ketika struktur pendanaan bergantung pada pajak dan utang, dan orientasi kebijakan bertumpu pada pertumbuhan serta stabilitas makro, maka jaminan kebutuhan dasar sering kali bersifat residual ditangani jika ada sisa ruang anggaran, bukan sebagai prioritas absolut.

Dengan demikian, ketimpangan prioritas bukan sekadar kesalahan teknis penganggaran. Ia merupakan konsekuensi logis dari paradigma. Selama negara berfungsi dalam kerangka kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari tata kelola ekonomi dan maka tragedi akibat kegagalan pemenuhan kebutuhan dasar akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Berita Terkait:  PPHN dan Pembangunan yang Berkelanjutan

Kita tentu boleh mengkritik kebijakan tertentu. Namun kritik yang lebih tajam adalah mempertanyakan fondasi sistem yang membuat kebijakan-kebijakan semacam itu terasa “wajar”.

Sebab jika fondasinya tetap sama, maka perubahan angka anggaran tidak otomatis mengubah arah. Dan di situlah diskusi tentang tanggung jawab negara tidak boleh berhenti pada soal program, tetapi harus menyentuh soal sistem yang menaunginya.

Berita Terkait:  Idul Adha dan Kepemimpinan Moral