Proyek Geopolitik dan “Timur Tengah Baru”
Sudan juga menjadi bagian penting dalam proyek geopolitik Amerika Serikat yang dikenal sebagai New Middle East Project atau “Proyek Timur Tengah Baru”.
Tujuan utamanya adalah memastikan dominasi politik, ekonomi, dan militer Amerika di kawasan, sekaligus menekan pengaruh Islam politik yang berpotensi melawan hegemoni mereka.
Dalam konteks ini, Sudan memainkan dua peran strategis: pertama, sebagai sumber pasokan emas dan minyak; kedua, sebagai pintu gerbang pengaruh Amerika di Afrika Timur.
Tak heran jika Washington dan London berlomba memelihara jaringan proksi di Sudan. Israel pun ikut mengambil posisi, terutama sejak normalisasi hubungan dengan Khartoum pada 2020 melalui kesepakatan yang disponsori AS.
Dalam skema ini, Sudan diarahkan menjadi negara klien yang tunduk pada kepentingan Barat. Namun, ketika faksi militer bersaing dan stabilitas internal runtuh, Barat justru memanfaatkan situasi tersebut untuk semakin memperdalam cengkeramannya.
Uni Emirat Arab, sekutu setia Amerika, juga memainkan peran penting. Di balik dalih bantuan kemanusiaan, UEA menjadi penyalur logistik dan dana bagi salah satu pihak yang berkonflik, dengan tujuan mempertahankan kepentingannya dalam perdagangan emas.
Ironisnya, semua pihak yang terlibat berbicara tentang perdamaian, tetapi yang mereka cari sejatinya adalah keuntungan material.












