Persepsi

Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan

×

Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan

Sebarkan artikel ini
Tragedi Negeri Muslim yang Dijadikan Medan Rampasan
Kondisi Sudan saat ini. (Reuters)

Lembaga Internasional: Alat Legitimasi Hegemoni
Berita Terkait:  Pariwisata Gorontalo: Potensi Ekonomi, Ancaman Ekologis, dan Risiko Greenwashing Tourism

Krisis Sudan sekali lagi membuktikan bahwa lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Uni Afrika, IMF,

dan Bank Dunia tidak berdiri di atas kepentingan kemanusiaan sejati.

Berita Terkait:  Pahlawan di Balik Rak Buku: Pustakawan Gorontalo

Mereka adalah produk dari sistem internasional yang dirancang untuk melanggengkan dominasi negara-negara adidaya. Resolusi, embargo, bahkan bantuan kemanusiaan seringkali digunakan sebagai instrumen tekanan politik.

Menurut laporan Reuters (19 September 2025) yang mengutip data Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), lebih dari 3.384 warga sipil tewas hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025, sebagian besar di wilayah Darfur.

Berita Terkait:  Officium Nobile, Pertahankan Kebebasan Tenaga Medis dan Kesehatan dalam Melakukan Praktik di Fasilitas Kesehatan Gorontalo

Namun lembaga-lembaga internasional tampak tidak mampu—atau tidak mau—menghentikan kekerasan itu. Situasi ini memperkuat anggapan bahwa mekanisme global yang dikendalikan Barat hanya berfungsi ketika selaras dengan kepentingan mereka.

Di satu sisi, mereka berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, namun di sisi lain mereka menutup mata terhadap fakta bahwa kekacauan di Sudan lahir dari intervensi dan eksploitasi ekonomi yang mereka dukung.

Berita Terkait:  Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

Skema bantuan dan pinjaman hanya memperpanjang ketergantungan. Sudan, yang seharusnya bisa berdiri di atas kakinya sendiri berkat kekayaan sumber daya, justru terus diseret menjadi negara klien yang lemah dan tunduk pada kepentingan kapital global.