Headline

Kolaborasi Budaya dan Agama, Tradisi Malam Qunut Semarakkan Ramadan di Gorontalo

×

Kolaborasi Budaya dan Agama, Tradisi Malam Qunut Semarakkan Ramadan di Gorontalo

Share this article
Kolaborasi Budaya dan Agama, Tradisi Malam Qunut Semarakkan Ramadan di Gorontalo
Tradisi Malam Qunut yang diselenggarakan masyarakat Kabupaten Gorontalo tepatnya di Kecamatan Tabongo. (Foto: Nur Awalia/Mahasiswa magang UNG)

Hargo.co.id, GORONTALO – Masyarakat Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo kembali menggelar tradisi Malam Qunut yang dirangkaikan dengan berbagai lomba dan kegiatan masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Berita Terkait:  Demokrat Cabut Dukungan ke Anies, Erwin: Bukan Karena AHY Tidak Jadi Cawapres

Tradisi yang memadukan nilai budaya dan keagamaan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (3/3/2026) malam hingga Kamis (5/3/2026) malam.

Ketua panitia kegiatan, Agus Husain, menjelaskan bahwa tradisi Qunut di Tabongo memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Batudaa.

Berita Terkait:  Prostitusi Online: Polisi Amankan 5 Remaja di Perumahan Dulomo Utara

Hal itu tidak lepas dari kondisi masa lalu ketika Tabongo dan Batudaa masih berada dalam satu wilayah administrasi.

“Kalau dilihat dari sejarahnya, Tabongo dan Batudaa dulu masih satu wilayah. Tradisi Qunut ini awalnya berasal dari Batudaa, namun setelah terjadi pemekaran daerah, masyarakat Tabongo tetap mempertahankan dan melestarikannya,” ujar Agus.

Berita Terkait:  Kecelakaan Maut di Jalan Rusli Datau, Dua Pengendara Motor Tewas

Ia menuturkan, pelaksanaan tradisi Qunut di Tabongo mulai rutin digelar sejak 2018, meskipun praktik budaya tersebut telah lama dikenal masyarakat di wilayah Batudaa.

Selama pelaksanaan kegiatan, masyarakat disuguhkan berbagai lomba dan hiburan yang melibatkan berbagai kalangan. Di antaranya lomba makan kacang dan pisang, fashion show, hingga tarik tambang yang diikuti warga dari berbagai desa.

Berita Terkait:  PC IMM Kabgor Desak Aleg WM Dicopot Usai Ucap Rampok Uang Negara

Menurut Agus, lomba makan kacang dan pisang memiliki makna historis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Tradisi itu terinspirasi dari kebiasaan para petani yang menjual pisang dan kacang setiap pertengahan Ramadan.

“Secara historis dulu ada petani yang menjual pisang dan kacang pada pertengahan Ramadan. Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi budaya yang terus dijaga hingga sekarang,” jelasnya.

Berita Terkait:  Truk Tangki Pertamina Seruduk Pohon di Pontolo, Satu Tewas, Pemicu Diduga Rem Blong

Pelaksanaan kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga organisasi kemasyarakatan.

Sejumlah pihak turut mendukung kegiatan ini, di antaranya Bank Indonesia, KNPI, Karang Taruna, serta komunitas Salam Saja.

Berita Terkait:  Bawa 10 Paket Sabu, Seorang Warga Kota Gorontalo Diringkus Polisi

Mengusung tema kolaborasi budaya dan agama, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai kebersamaan serta menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam momentum Ramadan.

“Karena ini berlangsung di bulan suci Ramadan, kami ingin menunjukkan bahwa budaya dan agama bisa berjalan beriringan tanpa menghilangkan nilai masing-masing,” kata Agus.

Berita Terkait:  JFL 2026 Peringatan HPN ke-80: Tak Pernah Alami Kekalahan, Tim Kota Gorontalo Sabet Juara

Meski demikian, pelaksanaan kegiatan tahun ini menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menurunnya jumlah pengunjung dan pedagang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh adanya kegiatan serupa di beberapa wilayah lain seperti Desa Limehe Barat, Batudaa, Bongomeme, dan Telaga.

Berita Terkait:  Satu Unit Toko di Limboto Hangus Terbakar

Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi kendala dalam penyelenggaraan kegiatan. Agus mengungkapkan, dukungan anggaran dari pemerintah desa yang sebelumnya cukup membantu kini berkurang akibat kebijakan efisiensi anggaran.

“Kendala utama biasanya terkait anggaran. Saat ini kami lebih banyak mengupayakan dukungan dana secara mandiri melalui pengajuan proposal,” ujarnya.

Berita Terkait:  Breaking News : Kebakaran Gudang Toko Utama Shoes Gorontalo

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Agus berharap tradisi Malam Qunut tetap dapat dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo.

“Harapan kami, sesuai dengan semboyan Gorontalo Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah, masyarakat dan pemuda Tabongo dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi ini,” pungkasnya. (Mg-08) 

Berita Terkait:  Seorang Kakek Tewas Gantung Diri di Limboto, Kapolsek: Depresi Lantaran Kepergian Istrinya