Metropolis

Camat Suwawa Timur ungkap Kondisi Lokasi Tambang Pasca Diterjang Longsor

×

Camat Suwawa Timur ungkap Kondisi Lokasi Tambang Pasca Diterjang Longsor

Sebarkan artikel ini
Camat Suwawa Timur ungkap Kondisi Lokasi Tambang Pasca Diterjang Longsor
Kondisi lokasi tambang tradisional Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango pasca diterjang longsor. (Foto: BASARNAS)

Hargo.co.id, GORONTALO – Kondisi lokasi pertambangan di Kecamatan Suwawa Timur, saat ini berada dalam kondisi mengenaskan pasca diterjang longsor.

Berita Terkait:  Jadi Bandar Togel, Seorang Abang Bentor Diringkus Polisi

badan keuangan

Informasi yang dihimpun media ini, berdasarkan rilis Basarnas Gorontalo, Rabu (10/7/2024), jumlah korban telah mencapai 143 orang. 23 orang meninggal dunia, 30 dalam pencarian, dan 90 orang selamat.

Camat Suwawa Timur, Abdul Karim Tangahu mengatakan, para penambang yang berada di lokasi tersebut bukan hanya berasal dari Gorontalo, ada beberapa orang yang dari daerah lain.

Berita Terkait:  Merasa Ditipu dan Mengadu ke Polisi, Purnawiran Polri Ini Malah Terancam Dilapor Balik

badan keuangan

“Pertambangan tulabolo masyarakatnya bukan hanya dari suwawa itu sendiri tetapi banyak orang rantauan seperti bolsel, sulut, kotamobagu. Bahkan dari parigi moutong dan lain-lain,” kata Abdul Karim Tangahu.

“Kongsinya itu tidak ada, mereka cuma Kabilasa atau istilahnya jalan sendiri-sendiri, makanya tidak ada yang mempertanggung jawabkan itu,” sambungnya.

Berita Terkait:  Penggerebekan Judi Sabung Ayam di Kota Gorontalo, 11 Orang Ditetapkan Tersangka

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan ketinggian lumpur yang mencapai 3 meter telah menutupi area tambang seluas lebih dari 2 hektar itu.

Kondisi ini, kata dia, membuat upaya pencarian dan penyelamatan di lokasi lokasi yang terdampak, yaitu di Tibor 1, Tibor 3, Tibor 9, Tibor 18, dan Tibor 17.

Berita Terkait:  Ibu dari Bayi yang Ditemukan dalam Ransel Berdomisili di Bone Bolango

“Yang paling parah itu di lokasi Tibor 1,” ungkap Abdul Karim Tangahu.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, usai terjadinya bencana, koordinasi dengan sejumlah instansi terkait langsung dilakukan untuk mengintensifkan upaya evakuasi korban.

Berita Terkait:  Sebar Video Asusila Mantan Pacar, Seorang Remaja di Siendeng Diringkus Polisi

“Kesepakatan bersama masyarakat itu sendiri, evakuasinya menggunakan alat berat bukan manual, dikarenakan jika mengunakan manual paling cepat itu bisa mencapai enam bulan,” tuturnya.(*)

Penulis: Tasya Anugrah Putri Dilapanga/Mahasiswa Magang UNG
Editor: Sucipto Mokodompis

Berita Terkait:  Dua Warga Bone Bolango jadi Korban Penikaman



hari kesaktian pancasila