HeadlineMetropolis

Dugaan Kasus Money Politik PSU Pilkada Gorut, Enam Kades jadi Buron Polisi

×

Dugaan Kasus Money Politik PSU Pilkada Gorut, Enam Kades jadi Buron Polisi

Share this article
Dugaan Kasus Money Politik PSU Pilkada Gorut, Enam Kades jadi Buron Polisi
Ilustrasi money politik.

Hargo.co.id, GORONTALO – Polres Gorontalo Utara (Gorut) menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) terhadap delapan orang yang terlibat dalam dugaan money politik pada pelaksanaan PSU Pilkada Gorontalo Utara. Dari delapan warga itu, enam diantaranya adalah kepala desa (Kades) di Gorut.

Berita Terkait:  Seorang Dosen Kampus Swasta di Kabgor Kepergok Berhubungan Intim dengan Keponakan

Sejumlah tersangka yang akan segera dilimpahkan ke tahap dua ini berhasil kabur, meski Polres Gorut telah melakukan pengawasan semaksimal mungkin.

mengatakan bahwa pihaknya dalam proses kasus money politik tersebut telah berupaya semaksimal mungkin.

Berita Terkait:  Bhabinkamtibmas di Botupingge Serahkan Makanan Tambahan Bagi Balita

“Ada yang lewat jendela, ada yang pura-pura ijin ke toilet dan bahkan ada yang nekat kabur lewat belakang rumah,” ungkap Kasat Reskrim Polres Gorut, AKP Muhamad Adrianto.

Dalam melakukan pengawasan terhadap para terduga pelaku, menurut Adrianto, pihaknya menempatkan anggota sebanyak dua orang untuk satu tersangka.

Berita Terkait:  Satu Unit Rumah di Liluwo Hangus Terbakar

“Namun mereka tetap berupaya kabur. Untuk menindak lanjuti hal tersebut, Polres Gorut langsung menerbitkan DPO,” tegasnya.

Selain itu juga Adrianto menjelaskan sedikit soal perkembangan kasus dugaan money politik yang ditangani pihaknya.

Berita Terkait:  Demo Anarkis di Pohuwato, PT. PETS: 2.200 Penambang Sudah Terima Tali Asih

Untuk para tersangka, waktu penahannya berakhir pada tanggal 22 Mei Pukul 21:00 Wita.

“Pada waktu penahanan akan berakhir, kami sudah berusaha untuk mendapatkan tahap dua. Tapi, kami hanya mendapatkan P21,” jelasnya.

Berita Terkait:  Gudang di Telaga Terbakar, Dipicu Pembakaran Sampah

Adrianto menegaskan pihaknya harus tertib administrasi, karena jika tidak dikeluarkan sesuai tanggal penahanan, maka pihaknya akan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

“Karena menahan orang tanpa dasar,” tegasnya.
Berita Terkait:  Pedagang di Pusat Perdagangan Mulai Bersihkan Lapak dari Lumpur Pasca Banjir Surut

Untuk penahanan sendiri dilakukan hanya sampai pada 22 Mei 2025 dan akan kadaluarsa pada 23 Mei 2025. Disini terjadi kesalahan perhitungan hari kata Adrianto. Pada awal koordinasi, untuk masa kadaluarsa kasus mulai terbit dan dilakukan naik sidik pada tanggal 2 Mei 2025.

“Kami harus berpacu dengan 14 hari kerja yakni sampai 22 Mei. Sehingga, kami menerbitkan Sp. Han menyesuaikan dengan tanggal kadaluarsa. Tetapi ternyata pada 13 Mei, Hari Raya Waisak dan dihitung hari libur nasional. Masa kadaluarsa bertambah satu (1) hari sampai 23 Mei,” ujarnya.

Berita Terkait:  Seorang Warga Sulteng jadi Korban Pembacokan di Kecamatan Kota Utara

Disisi lain Sp. Han telah terbit dan tidak mungkin direvisi kata Adrianto. Sehingga yang dilakukan berupaya untuk mendapatkan tahap dua pada 22 Mei itu, namun usaha tersebut hanya sampai pada P21.

“Untuk tahap dua disepakati dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan dilaksanakan pada keesokan harinya yakni 23 Mei,” jelasnya.

Berita Terkait:  Kapolri Mutasi Tiga PJU Polda Gorontalo

Untuk menghindari tersangka lari, Polres Gorut menempatkan dua anggota untuk menjaga setiap satu orang tersangka.

“Kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun hal seperti ini terjadi. Kami berharap kerjasama semua pihak jika ada informasi terhadap para DPO untuk segera diinformasikan,” kata Adrianto. (*) 

Berita Terkait:  Pemeriksaan Airlangga di Kejagung Ricuh, Wartawan Diancam akan Ditembak

Berikut identitas kedelapan tersangka yang masuk dalam DPO:

1. Rahman Desei – Kepala Desa Pinontoyonga
2. Kusno Van Gobel – Kepala Desa Sigaso
3. Isnain Talaban – Kepala Desa Imana
4. Hartono Datau – Kepala Desa Buata

Berita Terkait:  Sebuah Pick-up Tabrak Pohon di Jalan Arif Rahman Hakim, Satu dari Tiga Korban Kritis

5. Anton Buabengga – Kepala Desa Bintana
6. Hamran Ahaya – Kepala Desa Oluhuta
7. Erman P. Kakilo – Warga Desa Tolite Jaya
8. Romi Mopangga – Warga Desa Wubudu.
Berita Terkait:  Seorang Dosen Kampus Swasta di Kabgor Kepergok Berhubungan Intim dengan Keponakan