Persepsi

Relasi Politik Birokrasi dan Demokrasi

×

Relasi Politik Birokrasi dan Demokrasi

Share this article
Penjagub Gorontalo, Hamka Noer Hendra Noer saat mengikuti kegiatan High Level Meeting TP2DD di Ruang Pertemuan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Kamis (18/8/2022). (Foto: Istimewa), Politik Birokrasi
Hamka Noer Hendra Noer. (Foto: Istimewa)

Penutup

Relasi birokrasi dan demokrasi terkesan bertentangan, sesungguhnya tidak dikotomis melainkan simbiotik-mutualistik. Namun, sesungguhnya keduanya diperlukan demi terciptanya pemerintahan yang efektif dan responsif. Keduanya menyediakan manfaat bagi masyarakat. Responsifnya pemerintahan demokratis harus diimbangi dengan kepastian dan kenetralan yang ada di institusi birokrasi. Begitu juga, proses-proses demokratis diperlukan demi mengabsahkan proses pemerintahan dan menghasilkan perundang-undangan yang benar-benar diinginkan warganegara.

Posisi jabatan dalam birokrasi harus diisi dengan orang-orang yang memiliki kompetensi,

dalam arti memiliki kemauan, ketahuan, dan kemampuan bekerja sesuai dengan bidangnya.

Jabatan birokrasi tidak boleh lagi diisi semata-mata hanya berdasarkan kedekatan dengan rezim penguasa, tetap harus diisi dengan memperhatikan profesionalisme. Profesionalisme tersebut diharapkan dapat menghadang dan bahkan menghentikan intervensi politik yang semata-mata hanya untuk melestarikan pengaruh dan kekuasaan rezim penguasa.

Kedepan, diperlukan pengawasan masyarakat supaya tidak terjadi kemungkinan persekongkolan antara institusi politik dan institusi birokrasi seperti sekarang ini.

Pengawasan masyarakat seharusnya dikembangkan dan diletakkan sedemikian rupa supaya berdiri sejajar

dengan pengawasan fungsional (seperti dilakukan oleh lembaga legislatif dan badan-badan pengawas).

Sehingga, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa, asosiasi, dan kalangan profesional bisa berperan aktif dalam sistem pengawasan tersebut.
Berita Terkait:  Pilkada 2024 Tinggal 1.000 Jam