Legislatif

Gelar FGD Cegah Fenomena Bunuh Diri, Cara Diko Sambut Tahun Baru Islam

×

Gelar FGD Cegah Fenomena Bunuh Diri, Cara Diko Sambut Tahun Baru Islam

Sebarkan artikel ini
FGD
FGD pencegahan bunuh diri di Lingkungan pendidikan, Selasa (18/7/2023). (Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Sebagai salah satu wakil masyarakat di Parlemen, Abdullah Kadir Diko, juga memberikan perhatian serius terhadap fenomena kasus bunuh diri dan upaya bunuh diri yang marak di Provinsi Gorontalo akhir-akhir ini. Bahkan, secara khusus, Ketua Fraksi PKB DPRD Pohuwato itu menggelar Forum Discussion Group (FGD) pencegahan bunuh diri di Lingkungan pendidikan, Selasa (18/7/2023).

Berita Terkait:  Windra: Ranperda KPK Sudah Diharmonisasi dengan Kemenkumham

Pada FGD dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 Hijriah ini, Diko menghadirkan Psikolog Provinsi Gorontalo Zulkarnain Antu, M.Psi, Cendekiawan Muslim, KH. Abdullah Aniq Nawawi Lc. MA, Psikiater RSUD Bumi Panua Pohuwato dr. Risza Subiantoro.

Bertempat di Aula Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, FGD ini juga di hadiri kepala sekolah dan tenaga pendidik SD, SMP hingga SMA di Kecamatan Randangan – Taluditi, Ketua Yayasan Salafiyah Safi’iyah, Pemuka Agama, aktivis perempuan dan pemerintah daerah serta pemerintah desa.

Berita Terkait:  Bahas APBD Perubahan 2025 dengan Dinas Kominfo, Hardi Mopangga Sampaikan Hal Ini

Pada kasus bunuh diri, sebagaimana diterangkan Psikolog Zulkarnain Antu, M.Psi, orang dengan kecenderungan bunuh diri mengalami perubahan perilaku karena adanya permasalahan– permasalahan. Yang mana dalam menghadapi masalah tersebut, setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda –beda.

“Cara manusia mempersepsikan masalah itu berbeda–beda. Ada yang mempersepsikan masalah secara negatif dan ada yang secara positif. Dari persepsi tadi, responya seperti apa ? Bisa dalam bentuk pola pikir, atau perilaku atau sikapnya kepada orang–orang sekitar,” terang Zulkarnain.

Berita Terkait:  Zulfikar Hadiri Launching Foodcourt Baru di Pasmolim

“Orang–orang dengan kecenderungan bunuh diri ini adalah orang-orang yang merasa buntu, tidak mampu menyelesaikan masalah. Dan tidak mendapatkan dukungan lagi dari orang – orang sekitar,” imbuhnya.

Pada dasarnya, lanjut Zulkarnain, orang dengan kecenderungan bunuh diri ini tidak ingin mati. Namun orang tersebut tidak ingin hidup dengan rasa sakit akibat masalah yang dihadapi.

Berita Terkait:  Komisi III DPRD Kabgor Desak Eksekutif Tuntaskan Pekerjaan Proyek 2025

“Siapa pun bisa saja memiliki ide bunuh diri. Tetapi, yang membedakan adalah ketika orang dengan kecendrungan bunuh diri ini punya tempat untuk menemukan solusi dan menguatarakan apa yang dirasakan dan menghubungkan dengan para ahli, pemuka agama dan medis, Insya Allah dia akan lebih mempertimbangkan ide untuk bunuh diri tersebut,” jelasnya.

Sementara di sisi lain, penyebab orang cenderung bunuh diri menurut Gus Aniq, karena adanya disorientasi hidup bagi mereka yang berusia di atas 60 Tahun.

Berita Terkait:  Polemik Lahan PT. Tolangohula, Fraksi Golkar Minta Pemkab Boalemo Tegas

“Dia sudah bingung mau ngapain lagi. Kok enggak mati-mati. Mungkin seperti itu,” kata Gus Aniq menjelaskan.

Selain itu, kasus ini juga menurutnya, rentan terjadi kepada mereka orang–orang yang memiliki tekanan dari luar.

Berita Terkait:  Aleg Kabgor Ini Dukung Pemkab Tingkatkan PAD Lewat Sektor Pariwisata

“Tekanannya apa? Misalkan saya di mata orang hebat, maka saya harus sukses. Saya harus berpendidikan,” katanya lagi.

Untuk menghindari kasus tersebut, cendekiawan muda ini berpesan agar pentingnya peran semua pihak dalam menanamkan sikap qona’ah, menerima dan mensyukuri apa yang dimiliki. Membangun rasa optimis dan dapat menjadi teladan berperilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait:  Sukses Gelar Apel Akbar, PPDI Diapresiasi Ketua DPRD Kabgor

Dalam dialog tersebut, masing-masing narasumber memberikan berbagai pandangannya dan solusi dalam rangka mengatasi dan mencegah aksi bunuh diri. Berbagai pandangan itu pun kemudian oleh Diko akan dijadikan catatan dan rekomendasi yang akan disampaikanya pada Rapat Paripurna di DPRD Pohuwato nantinya.

“Banyak masukan dari berbagai pihak, termasuk dari tokoh agama, tokoh dan aktivis perempuan, guru dan masyarakat terkait kurangnya guru atau tenaga Bimbingan Konseling. Jadi, kita berharap pemerintah daerah membuka formasi bimbingan konseling ke depan,” kata Diko

Berita Terkait:  Reses Aleg Dapil I Pohuwato Monitoring Hotel "Ogah" Bayar Pajak

Tidak hanya itu, ia juga berharap ada peningkatan kapasitas guru bimbingan konseling di sekolah, dan meningkatkan kepekaan para guru terhadap potensi gangguan mental pada siswa.

“Saya pikir ini adalah satu rekomendasi yang perlu untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Tidak kalah pentingnya, kasus bunuh diri ini harus mendapat perhatian serius dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) dari berbagai OPD. Satgas ini nantinya akan memperkuat dan mempercepat pencegahan aksi bunuh diri dan kekerasan perempuan dan anak,” papar Diko.

Berita Terkait:  Yunus Dunggio Ajak Warga Sukseskan FPDL 2024

Usai FGD, perwakilan peserta dari unsur pemuka agama, pemerintah daerah, tenaga pendidik, aktivis perempuan, menandatangani rekomendasi yang akan disampaikan Diko pada Paripurna nanti.

Rekomendasi tersebut tertuang beberapa poin terkait kebijakan dan rencana tindak lanjut para pihak yang dirumuskan lewat FGD tersebut, diantaranya :

Untuk Pemerintah Daerah
1. Menyusun pedoman pencegahan aksi bunuh diri .
2. Mengeluarkan seruan bahaya aksi bunuh diri di berbagai instansi.
3. Membuat pedoman batasan-batasan pemberitaan terkait aksi bunuh diri.
4. Melahirkan generasi tangguh melalui program-program sosial.
5. Pejabat publik menyerukan dan mencontohkan untuk bersikap sederhana.
6. Membatasi konten-konten (Media sosial) terkait aksi bunuh diri.
7. Peningkatan kapasitas penyelenggara pendidikan, pemuka agama dan tokoh.
8. Menambah guru BK di sekolah-sekolah.

Berita Terkait:  25 Aleg Gorut Dibekali Berbagai Materi saat Ikut Orientasi

Praktisi Kesehatan
9. Membuat call center untuk konsultasi kesehatan mental.
10. Melakukan pelatihan PFA (Psycological First Aid).

Praktisi Pendidikan
11. Guru membuka ruang dialog dengan peserta didik.
12. Pembelajaran dimulai dengan suasana bahagia.
13. Guru menyerukan dan mencontohkan sikap sederhana dan menerima apa adanya.
14. Memperkuat peranan bimbingan konseling di setiap lembaga pendidikan formal.
15. Memperkuat pendidikan agama kepada peserta didik.

Berita Terkait:  25 Aleg Gorut Dibekali Berbagai Materi saat Ikut Orientasi

Pemuka Agama dan Tokoh Masyarakat
16. Menyerukan pesan-pesan bahaya aksi bunuh diri di berbagai kegiatan keagamaan dan masyarakat.
17. Menyerukan sikap sederhana dan menerima apa adanya kepada masyarakat (Budaya qona’ah).
18. Menyelenggarakan sensus kesehatan.

Media dan Kominfo
19. Membuat pedoman ilustrasi dalam pemberitaan terkait bunuh diri.
20. Menyerukan suara-suara empatik dan bahaya bunuh diri. (*) 

Berita Terkait:  Komisi III DPRD Kabgor Desak Eksekutif Tuntaskan Pekerjaan Proyek 2025

Penulis: Riyan Lagili