Hargo.co.id, GORONTALO – Festival toki sahur atau yang lebih dikenal Koko’o di Gorontalo, yang berlangsung pada Kamis (29/2/2026) dini hari menyedot perhatian berbagai kalangan. Tidak terkecuali Generasi Z (Gen Z).
Kelompok manusia yang lahir antara tahun 1997-2012, setelah generasi Milenial ini, terlihat begitu antusias menyaksikan Koko’o.
Ibrahim Kama (20) warga Telaga, Kabupaten Gorontalo mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung festival Koko’o yang digelar di Kota Gorontalo.
Ia mengatakan pada tahun-tahun sebelumnya dirinya kerap tertidur sehingga tahun ini menjadi momen pertamanya merasakan langsung.
“Saya baru pertama kali nonton langsung, biasanya ketiduran, ternyata pas datang saya takjub dan bangga karena ini festival tahunan yang ikonik dan sangat menggambarkan suasana menyambut Ramadan di Gorontalo,” ujarnya.
Ibrahim berharap festival Koko’o dapat terus dikembangkan agar semakin dikenal luas bahkan hingga keluar daerah.
“Semoga festival ini bisa lebih besar lagi dan tidak hanya di kota Gorontalo tapi juga di semua Kabupaten yang ada di Gorontalo, karena ini tradisi yang sangat khas,” tutupnya.
Sama-sama baru pertama kali menyaksikan Koko’o secara langsung, Elsa (20) warga Tapa, Kabupaten Bone Bolango mengaku mengetahui informasi adanya festival tersebut melalui media sosial TikTok dan tertarik datang, karena ekspektasinya yang cukup tinggi setelah melihat berbagai unggahan tahun sebelumnya di media sosial.
“Selama 20 tahun tinggal di Gorontalo Ini pertama kalinya saya datang dan menonton langsung, saya tahu dari TikTok dan ekspetasi saya cukup tinggi tapi ternyata pas sampai di lokasi rasanya berbeda dari yang saya bayangkan,” ujarnya.
Elsa pun menyoroti suara petasan dan iringan sound system yang lebih mendominasi, sehingga nuansa tradisional Koko’o itu kurang terasa. Bahkan menyebut momen tersebut lebih menyerupai konser keliling daripada tradisi budaya.
“Rasanya seperti hanya melihat pelepasan petasan. Di beberapa titik orang yang terjebak macet tidak terlalu mendengar bunyi Koko’o yang paling terasa justru petasannya,” keluhnya.
Elsa berharap konsep kegiatan dapat lebih diarahkan pada nuansa religius sesuai dengan julukan Gorontalo sebagai serambi Madinah.
“Koko’o ini tradisi yang bagus dan harus dilestarikan, tapi mungkin ke depan bisa lebih bertema islami. Misalnya fokus pada Koko’o, zikir, dan salawat bersama tanpa sound system yang terlalu besar supaya suasana menyambut Ramadan bisa terasa lebih khusyuk dan sesuai dengan nilai budaya Gorontalo,” jelasnya.
Ia juga berharap pemerintah kota dapat terus mendukung kegiatan tersebut
dengan memberikan arahan agar konsep festival tetap mencerminkan nilai tradisi dan keagamaan.
Pemerintah, kata dia, tetap mendukung tapi juga lebih mengarahkan agar Koko’o
tetap mempertahankan identitasnya sebagai tradisi Islami bukan seperti konser keliling.
Perbedaan pengalaman oleh perwakilan Gen Z tersebut menunjukkan bahwa festival Koko’o
memberikan kesan yang beragam bagi masyarakat khususnya bagi mereka yang baru pertama kali menyaksikan.
Ada yang merasakan kebanggaan, ada pula yang berharap konsep kegiatan dapat lebih menonjolkan
sisi religius agar sejalan dengan identitas Gorontalo sebagai Serambi Madinah. (Mg-08)












