Karena itu, dua agenda harus berjalan beriringan: menjangkau anak yang belum terlayani dan meningkatkan mutu setiap satuan pendidikan. Agenda pertama memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan. Agenda kedua memastikan bahwa ketika anak bersekolah, ia memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas.
Inilah semangat Torang Bekeng Bae: membangun kebaikan melalui keterlibatan dan kerja bersama. Pendidikan menjadi ruang penting untuk menerjemahkan semangat tersebut, sebab masa depan kota sedang dibentuk melalui pengalaman anak-anaknya hari ini.
Tidak Ada Anak Tertinggal, Tidak Ada Sekolah Ditinggalkan, Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari megahnya bangunan, lengkapnya fasilitas, atau banyaknya program yang diluncurkan. Semua itu penting, tetapi harus bermuara pada pertumbuhan manusia dan pemerataan kesempatan belajar.
Instruksi Wali Kota untuk memastikan tidak ada anak yang tidak sekolah harus menjadi komitmen bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat. Setiap lurah perlu membantu mengenali persoalan pendidikan di wilayahnya, Setiap camat perlu menggerakkan koordinasi lintas kelurahan. Setiap kepala sekolah perlu membangun hubungan aktif dengan pemerintah wilayah dan keluarga. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan perlu memastikan layanan pendidikan tersedia, mutu terus ditingkatkan, dan hasilnya dievaluasi secara berkala.
Namun, komitmen tersebut harus melangkah lebih jauh. Setiap satuan pendidikan harus mendapat kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki diri. Tidak boleh ada sekolah yang kehilangan perhatian hanya karena belum populer. Tidak boleh ada peserta didik yang menerima layanan bermutu lebih rendah hanya karena bersekolah di wilayah tertentu.
Sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang mampu mengembangkan potensi anak, memberikan rasa aman, membangun karakter, menghargai kebudayaan, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman. Mutu seperti ini harus menjadi komitmen seluruh sekolah, bukan hanya sekolah yang telah memiliki reputasi baik.
Kita ingin suatu saat orang tua di setiap kelurahan merasa yakin bahwa sekolah dekat rumahnya merupakan tempat yang baik bagi masa depan anak. Bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena sekolah itu memang layak dipilih.
Inilah arah perubahan yang perlu terus diperjuangkan: dari pemerintahan yang hanya mendata anak tidak sekolah menuju pemerintahan yang aktif menjangkau mereka; dari sekolah yang sekadar menerima peserta didik menuju sekolah yang dipercaya masyarakat; dan dari pendidikan yang dibatasi dinding kelas menuju pendidikan yang hidup dalam seluruh ruang kota.
Pagar sekolah boleh menjadi batas halaman, tetapi tidak boleh menjadi batas kepedulian. Ketika setiap anak memperoleh kesempatan belajar, setiap sekolah terus meningkatkan mutu, dan setiap kelurahan serta kecamatan mengambil bagian dalam ekosistem pendidikan, Kota Gorontalo sedang membangun fondasi masa depan yang lebih kuat.
Sebab, pendidikan melampaui pagar sekolah bukan berarti mengurangi peran sekolah. Sebaliknya, gagasan ini memperkuat sekolah dengan dukungan keluarga, pemerintah, kebudayaan, dan masyarakat.
Tujuan akhirnya ialah memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan dan memastikan sekolah terdekat menjadi pilihan yang dipercaya karena kualitasnya. Itulah jalan menuju Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar: kota yang tidak hanya mengajak semua anak bersekolah, tetapi juga membangun setiap sekolah menjadi tempat terbaik bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, mengenali kebudayaannya, dan menyiapkan masa depannya.












